Akibat Pandemi, Perayaan Cap Go Meh  Tahun Kerbau Logam Di Majalengka Sepi

oleh -18 views

Majalengka, korandesa.id – Akibat Pandemi Covid 19 suasana perayaan Cap Go Meh di Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin atau Vihara Pemancar Keselamatan Kabupaten Majalengka di tahun 2021 ini tak begitu ramai, umat Budha yang biasa sembahyang di Vihara tersebut banyak yang tidak pulang kampung.

Suasana kelenteng sangat hening, namun cukup asri dan bersih, nyaris tidak ada debu di lantai ataupun dinding tempat sembahyang, sehingga orang yang bersembahyang bisa khusu.

Umat Budha di Majalengka sendiri kini tinggal beberapa orang, karena sebagian besar tinggal di luar kota seperti Bandung, Jakarta, Bogor, Surabaya dan sejumlah kota lainnya yang baru pulang saat perayaan imlek atau Cap Go Meh. Sayangnya tahun ini terhalang pandemi sehingga semua nyaris tak bisa pulang kampung ke Majalengka.

Namun demikian sejumlah umat kristiani dan umat muslim datang berkunjung ke Vihara untuk bersilaturahmi sekaligus untuk menyampaikan ucapan selamat atas perayaan Cap Go Meh kepada umat Budha yang tengah merayakan agamanya.

Pengurus Vihara Edhy Subarhi dan istrinya Neneng yang berada di Vihara menyambut setiap tamu yang datang ke Vihara dan langsung mempersilahkan setiap tamu untuk menikmati makanan dan masakan khas Cap Go Meh yang sengaja disiapkan oleh Neneng.

Makanan khas Cap Go Meh seperti lontong, opor ayam kuning, telur bulat, oreg tempe dan pasak mie tersedia cukup banyak, setiap tamu yang datang dipersilahkan untuk menikmati “Longtong cap go meh” yang tesredia di meja. Aneka buah-buahan yang biasa dipersembahkan pada sembahyangpun cukup banyak, jeruk berwarna orange, anggur hitam, fiir serta apel hijau dan aneka kue seperti onde-onde yang juga hidangan khas.

“Sekarang tinggal kami yang berada di Majalengka, semua berada di luar kota. Tapi kami tetap mempersiapkan bagi yang pulang kampung untuk sembahyang dan merayakan Cap Go Meh di Majalengka, serta tema dan sahabat di Majalengka yang biasa berkunjung,” ungkap Edhy Subarhi bersama istri dan cucunya saat berbincang dengan beberapa tamu yang datang.

Rais, Meme, yang berkunjung sangat menikmati makanan yang dihidangkan pengurus Vihara sambil diselingi senda gurau.

Filosofi Opor Kuning

Neneng mengungkapkan lontong yang dipadu opor kuning selalu tersedia setiap perayaan demikian juga dengan telur mie dan bacang yang dibungkus daun bambu berbentuk segi tiga karena memiliki filosofi bagaimana sikap hidup dalam keseharian.

Opor ayam berwarna kuning artinya setiap orang harus berhati emas, berhati baik jauh dari sikap iri hati apalagi dengki pada sesama. Sedangkan telur filosofinya jika memiliki keinginan harus disertai dengan tekad yang bulat agar apa yang dikehendaki bisa tercapai. Serta mie melambangkan panjang usia dan panjang rizki, ada kebersamaan selamat di dunia dan di akhirat.

Bacang yang berasal dari beras ketan dan berisi daging cincang, dibungkus daun bambu berbentuk segitiga menurut Neneng, karena bentuk segi tiga ketika dilempar atau menyimpannya di bulak balikpun tetap tidak berubah bentuk. Beras ketan yang dikenal lengket melambangkan setiap orang harus teguh pada ajaran Tuhan Yang Maka Kuasa.

“Kalau bungkus bacang segi tiga kan melambangkan kalau kita harus tetap fokus dan menjunjung tinggi keyakinan pada Yang Maha Kuasa, pada Tuhan, yakin dengan yang diatas kita. “ ungkap Neneng yang selalu mencari kebenaran dengan keyakinannya.

Bacang isi daging cincang, melambangkan bahwa daging di masak apapun, atau digiling dan dikerat seperti apapun rasanya tetap daging.

Namun demikian menurut Neneng ada juga yang menyebutkan bahwa bacang harus tersedia dengan isi daging karena ada mitos yang menyebutkan, pada jaman dulu ada pemimpin yang jujur namun akhirnya mundur dari kepemimpinanya karena ada yang korup, hingga suatu saat pergi ke laut menghindari pemerintahan yang korup tersebut, namun kahirnya kapalnya karam.

Saat karam agar tidak dimakan binatang laut, rakyat yang demikian mencintainya segera melempar bacang ke laut agar binatang laut beralih mengambil makanan bacang, dan pemimpin tersebut akhirnya selamat.

Ceritera lainnya ada pasangan muda mudi yang saling mencintai, tapi sang perempuan ditinggal pergi untuk bertugas hingga bertahun-tahun. Si perempuan berjanji akan tetap menunggu dan selalu duduk diatas batu pinggir sungai sambil mempersembahkan bacang, hingga akhirnya si perempuan bunuh diri dengan mencebur ke sungai. Setelah itu ketika persembahyangan bacang selalu mandi untuk mengingat anak wanita yang menceburkan diri.

“Sedangkan bacang di bungkus daun bambu karena bambu tidak mengenal musim, tidak ada musim gugur tidak ada musim semi. Bambu tidak mengenal musim daunnya tak pernah gugur seperti pohon-pohon lainnya,” katanya.

Buah-buahan yang dipersembahkanpun harus selalu ada, setidaknya jeruk yang melambangkan kebijaksanaan, apel melambangkan kemuliaan hati, buah berwarna hijau melambangkan kesehatan. Itu juga melambangkan lima unsur logam, kayu, air, tanah dan api. Logam dilambangkan dengan jeruk yang berwarna orange, kayu berwarna hitam dilambangkan dengan manggis atau anggur, air yang putih dilambangkan dengan buah fiir, serta api yang merah dilambangkan dengan apel merah.

“Semua ajaran bermakna untuk kebaikan manusia, teguh pendirian, selalu berbuat baik, sabar, jangan lepas dari ajaran Tuhan dan jika memohon, maka memohonlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ungkap Edhy.(Wisnu)***