Bangkit Dari Keterpurukan Disaat Pandemi

oleh -171 views

Majalengka,korandesa.id.- Pandemi COVID-19 berdampak tidak hanya bagi kesehatan saja, namun juga bagi ekonomi dan sosial. Sejumlah masyarakat terpaksa harus menghadapi tantangan hidup dari kehilangan separuh penghasilan, kehilangan pekerjaan, sampai harus beralih profesi untuk bertahan. Kondisi dinamis pandemi ini memang telah dirasakan oleh hampir semua orang di dunia, dari mulai pekerjaannya, usahanya, dan kehidupannya harus berubah dan beradaptasi dengan situasi yang baru.

Menghadapi situasi seperti sekarang ini banyak orang yang belum siap memasuki kondisi buruk tersebut, sehingga kebanyakan dari mereka terperosok kedalam keterpurukan ekonomi. Beruntung masih ada sebagian orang yang berjiwa wirausaha kuat, yang mampu mengubah bencana menjadi keberuntungan. Salah satu diantara mereka adalah H. Aceng Sunanto, S.IP., yang sukses dan bangkit dari keterpurukannya disaat wabah Covid-19 ini melanda.

Aceng Sunanto adalah seorang pemuda kelahiran Majalengka, yang di pertengahan tahun 2019 lalu sempat terpuruk ke titik terbawah akibat gagal dalam pencalonan legislative di kotanya. Saat itu, pasca pencalonan dirinya, ia sampai memiliki utang 800 juta rupiah dan semua asset yang dimilikinya habis tak tersisa. “Saya saat itu betul betul ada di titik minus, semua asset yang saya miliki seperti mobil dan lainnya habis dijual , bahkan setelah pileg usai, saya sempat punya utang sampai 800 juta rupiah’, kata H.Aceng disela sela kesibukanya mengecek orderan yang akan di distribusikan.

Aceng bercerita, dulunya sebelum menjajal penjualan di platform digital, ia merupakan pengusaha APBD yang bergerak di bidang konstruksi, dan setelah beberapa tahun berjalan, ia tertarik untuk ikut kontestasi politik dalam Pemilu 2019. Tapi ia gagal dalam pemilihan legislatif tersebut, semua modal usaha yang dimilikinya terkikis habis untuk biaya pemilihan dewan, beberapa bulan usai Pileg ia benar benar ada di titik minus. Namun seiring berjalannya waktu, dengan bermodal uang 1 juta rupiah yang dia kantongi, ia mulai merangkak bangkit dari keterpurukan dengan mencoba peruntungan baru lewat bisnis jual beli online. “Sebelum pandemi sebetulnya saya sudah memulai bisnis jual beli online namun omsetnya biasa biasa saja. Saat itu bisnis online saya diawali dari jual beli jam tangan dengan modal seadanya. Namun hanya satu dua orang saja yang nyangkut, akhirnya saya tinggalkan karna kurang menguntungkan, Kemudian dalam perjalanan bisnis saya itu menemukan salah satu chanel youtube Arli Kurnia asal Jakarta yang memberikan inspirasi bagi saya. Di Chanel mas Arli tersebut ada membahas tentang “bebas utang dalam 30 hari” disitulah saya tertarik untuk masuk chanel youtube tersebut, saya mulai mengikuti arahannya. Dari situ saya memulai menjual produc scin care. Ketika memasuki bulan Maret 2020 saat pandemi COVID-19 melanda Negara kita, bisnis jual beli online saya mendapatkan lonjakan besar yang tak diduga. Saya mendapatkan lonjakan besar dalam penjualan handsanitizer dan scin care yang saya kelola melalui platform digital. Alhamdulillah dari bisnis online itu saya bisa melunasi semua utang utang saya”, papar Pemuda lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Majalengka ini.

Dalam bisnis jual beli online nya, pemuda yang baru berusia 30 tahun ini mengaku omset penjualan saat ini mencapai Rp100 juta lebih per harinya dengan jumlah karyawan sebanyak 67 orang. Akhirnya melihat peluang usaha yang menjanjikan ditengah pandemic, pemuda yang memulai bisnisnya di bidang jasa konstruksi itu memilih banting setir ke bisnis penjualan produck Hendsanitizer dan scincare (produck untuk kecantikan) melalui platform digital.

Menurut Aceng, sekarang ini bisnis melalui platform digital merupakan usaha yang masih bisa bertahan di saat pandemic dibanding usaha riil yang ada. Karena menurutnya, di bisnis jual beli online market place nya luas, “berbeda dengan jual beli secara riil yang kelihatan tokonya, mereka hanya menunggu konsumen yang datang ke toko tersebut, jadi konsumennya sangat terbatas sekali’, kata Aceng yang merupakan Direktur utama PT. LS Astari Suksestama.

Diakui dia, produck skincare nya sendiri sekarang ini sudah memiliki ijin edar dari BPOM dengan label LS Scincare, “ Alhamdulillah semua produck PT. LS sekarang sudah memiliki ijin edar dari BPOM, dan beberapa produck yang tahun depan di produksi sudah diajukan ijin edarnya”, terang Aceng.

Lebih jauh Aceng mengatakan, selain bisa bertahan, bisnis jual beli secara online juga merupakan usaha yang bisa mengurangi resiko ancaman wabah COVID-19, karena tidak bersentuhan langsung dengan konsumen.

Atas keberhasilannya tetap survive di tengah pandemi, ia berbagi beberapa tips yang bisa dilakukan oleh para pelaku usaha:

  1. Percaya dan yakin

Dalam menjalankan bisnis harus percaya dan yakin atas apa yang sedang di usahakan. “Percaya dan yakin bahwa Allah akan memberikan jalan untuk semua orang.

  1. Jujur dan transparan

Sebaiknya perusahaan bersikap jujur dan transparan kepada karyawannya terkait kondisi yang dialaminya. Dengan begitu perusahaan dapat merundingkan langkah apa yang terbaik bagi karyawan dan perusahaannya.

  1. Cepat mengambil peluang

Ketika ada peluang, secepatnya diambil dan di kerjakan, karena ketika peluang tersebut secepatnya di ambil dan dikerjakan maka kesuksesan sudah didepan mata.

  1. Menentukan strategi bisnis perusahaan

Jika dengan strategi bisnis yang sedang dijalankan perusahaan masih dapat berjalan, maka sebaiknya pertahankan. Namun, jika tidak dapat bertahan perusahaan dapat menggunakan melakukan pivot dari core bisnis. Pivot sendiri memiliki arti mencari model bisnis yang lain, namun tetap berada divisi yang sama dengan perusahaan. Bisa juga perusahan menjalankan keduanya secara bersama.

Kisah serupa juga dialami Priscilla Renny, Pengusaha Batik asal Lasem, Jawa Tengah. Sarung Batik Tiga Negeri yang jadi komoditas andalannya pada momen Lebaran mengalami penurunan penjualan yang tajam. “Mungkin penurunan pendapatan kami mencapai 70%. Tapi hingga kini, yang saya lakukan tetap bertahan meski berjalan sedikit demi sedikit”, ujarnya.

Di tengah pandemi ini, dia ikut memotivasi para pengusaha batik di Lasem untuk ramai-ramai berjualan secara online. Transformasi ekonomi ini belum begitu dilirik para pengusaha sebelum pandemi COVID-19. Namun untuk saat ini jual beli online yang membantu kami untuk melakukan penjualan produk batik Lasem,” kata Priscilla Renny.

Sebelum menjajal berjualan di platform digital, Priscilla Renny mengakui pemasarannya hanya dilakukan dari mulut ke mulut. Terkadang, ia juga memasarkannya secara langsung melalui pesan ponsel. “Dengan berjualan online, arus keuangan usaha sedikit demi sedikit mulai pulih. Untuk penjualan tiap bulan sudah ada peningkatan. Meski belum normal seperti dulu. Sekarang minimal penjualan sudah ada”, terangnya saat Dialog produktif yang diselenggarakan Komite penanganan COVID 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

Meski mulai terbiasa dengan tranformasi digital, pebisnis seperti H. Aceng Sunanto dan Priscilla Renny menaruh harapan pandemi ini cepat berlalu dari indonesia agar kegiatan ekonomi kembali pulih, “Saya sangat berharap pandemic ini cepat teratasi, sehingga kita kembali bisa melakukan aktivitas usaha dengan nyaman. Oleh kareana itu marilah kita bersama sama untuk saling menjaga kesehatan dengan melakukan disiplin protokol kesehatan 3M (Memakai masker,Menjaga jarak, dan Mencuci tangan), agar mata rantai Covid-19 bisa diputus, sehingga kehidupan kembali normal ”, ajaknya. (***)

Editor : Asep Trisno

BERITA LAIN