Bejat !! Pemuda Asal Majalengka Nekat Cabuli Anak Dibawah Umur

Korban sempat diancam tidak akan diberi makan dan akan diusir dari rumah oleh pelaku.

Majalengka, korandesa.id – Pemuda asal Kabupaten Majalengka yang berprofesi sebagai buruh tani nekat mencabuli anak dibawah umur, kasus pencabulan tersebut dilakukan oleh kakak sepupunya sendiri sebanyak sepuluh kali dari tahun 2019 sampai 2020.

kasus ini terungkap setelah korban menceritakan kejadian tersebut kepada bibi dan pamannya.

“Ketika korban sedang menceritakan kejadian tersebut kemudian terdengar oleh Muhamad Darda yang merupakan pengurus yayasan Al mizan Jatiwangi lalu ia melaporkan kepada Komunitas Perempuan Maju Majalengka dan Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Majalengka,” Ujar Kapolres Majalengka AKBP Bismo Teguh Prakoso, saat konferensi pers pada hari Senin(27/7).

Lalu kasus ini dibantu oleh Komunitas Perempuan Maju Majalengka dan Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Majalengka meminta pihak kepolisian untuk menindaklanjuti kasus tersebut ke jalur hukum.

Setelah mendapat laporan Polisi langsung gerak cepat untuk meringkus tersangka guna mendalami kasus tersebut.

“Pada hari Sabtu tanggal 25 Juli 2020, setelah mendapatkan laporan anggota (Polisi) langsung mengamankan pelaku dengan dibantu masyarakat, dikarenakan pelaku diduga hendak melarikan diri keluar kota,” Papar AKBP Bismo didampingi Kasat Reskrim Polres Majalengka, AKP Wafdan Muttaqin.

Saat didalami oleh polisi tersangka mengakui sebelumnya mengancam korban terlebih dahulu.

“Ia (Tersangka) mengancam terlebih dahulu tidak akan memberikan makan, mengancam akan menendang dan mengusir korban, sehingga korban menuruti kemauan pelaku,” Tutur Bismo.

Diungkapkan Kapolres, dalam pengakuannya tersangka sering menonton video porno.

“Tersangka sering menonton video porno sehingga timbul hasrat untuk melampiaskan nafsunya,” Ucapnya.

Dikatakan AKBP Bismo, Polres Majalengka akan menyiapkan rumah ramah anak untuk korban dan akan diasuh oleh polwan yang punya insting ke Ibuan.

“Agar anak tidak trauma dan psikologi anak tidak terganggu,” Jelasnya.

Atas perbuatannya pelaku dikenakan Pasal 81 Yo 82 UU RI No 17 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

“Pelaku diancam lima sampai lima belas tahun penjara,” Tandas Bismo.

(Rick)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.