Butuh Peran Negara Untuk Menciptakan Generasi Berakhlak Mulia

oleh -40 views

Ditulis Oleh :

Renny Marito H,S.Pd
(Guru RA di Kota Cimahi)

Keluarga adalah unsur terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah,ibu dan anak yang mempunyai fungsi dan tugasnya masing-masing. Mewujudkan keluarga sakinah,mawaddah, warohmah tentu menjadi dambaan setiap insan di dunia ini.

Namun hal itu tentu tidaklah mudah ditengah gempuran permasalahan umat yang acapkali terjadi pada keluarga muslim saat ini, sebut saja kasus yang viral di medsos seorang anak yang melaporkan sang ibu kandungnya kepada polisi di kabupaten Demak Jawa Tengah yang gegara cekcok soal baju yang berakibat pada sang ibu yang kini mendekam di sel tahanan Polsek Demak Kota(9/1/2021)
DetikNews.

Sungguh malang nasib seorang ibu yg telah mengandung, melahirkan dan membesarkan anaknya bahkan seorang ibu akan rela mengorbankan nyawa demi buah hatinya, namun akibat dari penerapan sistem sekuler yang berasaskan manfaat yg menjamin kebebasan berprilaku , sang ibu diperlakukan sedemikian rupa sampai-sampai dalam interaksi antara ibu dan anak saat ini hanya di ukur sebatas untung rugi dan berdasarkan nilai materi saja, Naudzubillah….

Sistem sekuler kini telah gagal menghadirkan penghormatan terhadap seorang ibu dan gagal pula menghasilkan sebuah ketenangan di dalam sebuah keluarga malah menghasilkan generasi yang berbuat sesuka hati dan melahirkan generasi yang durhaka. Bagaimana tidak kita saksikan fakta yang tersaji amat mengiris kalbu.

Keluarga muslim sudah seharusnya semakin menyadari kebutuhan untuk mengenali agamanya sebagai wujud cinta kepada Rosul dan cinta kepada syariat.

Adapun maraknya narasi kontra Radikalisme yang diarahkan kepada keluarga muslim, semakin kentara yaitu menghalangi keluarga muslim dalam mengenal agamanya serta syariat Islam secara kaffah. Hingga tataran implementasi syariah dalam ruang lingkup keluarga, masyarakat dan negara.

Padahal dalam Islam telah mengatur bagaimana interaksi di dalam keluarga sesuai fungsinya, dan Rasulullah Saw menyebutkan dalam hadits menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu 3 kali lipat besarnya di banding terhadap ayah.

Perintah dan penghormatan yang besar kepada orang tuapun banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT juga menempatkan kalimat kedua orang tua (walidain) setelah kata perintah keesaan kepada Allah, seperti Quran surat Luqman ayat 14, Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu ”

Sudah sepantasnya sikap seorang anak adalah selalu memuliakan dan menghormati kedua orang tuanya terlebih kepada ibu. Namun sayang, penerapan sistem demokrasi kapitalis yang lahir dari Sekularisme membuat anak-anak tidak tahu lagi sikap yang benar sesuai dengan tuntutan syariat dalam bersikap kepada orang tua mereka. Serta mengikis perasaan kasih sayang yang seharusnya ada pada diri seorang anak. Maka dari itu, sudah saatnya kita kembali kepada aturan Allah SWT dalam mendidik anak-anak agar tidak melahirkan anak-anak durhaka.

Namun tentu tidak cukup penjagaan ini dilakukan oleh masing-masing keluarga secara terpisah. Diperlukan peran negara dan masyarakat agar turut melahirkan generasi berbudi pekerti dan berakhlak mulia. Untuk itu, penerapan syariat Islam pun harus juga pada tataran negara. Karena negara yang nanti akan secara praktis menciptakan iklim yang kondusif untuk pendidikan anak agar lahir generasi yang Sholih serta berkepribadian Islam. Maka jelas, saat ini kita butuh Islam sebagai solusi dari permasalahan di negeri ini,Wallahua’lam.