Dinamika Politik Menjelang Pelantikan Jilid 2 Presiden Joko Widodo

Oleh : Boy Heru Hendrawan (Mboy)

Mahasiswa Pascasarjana Kebijakan Publik
Universitas Majalengka, Angkatan 14.


Konflik vertikal yang sedang terjadi saat ini merupakan tanda adanya pergeseran peta politik dari yang sebelumnya, biasanya ditandai dengan konflik horizontal. Jika konflik konflik yang sebelumnya persoalan masa pendukung Jokowi vs masa pendukung Prabowo, tapi kali ini adalah kaum intelektual dan massa yang kritis berbaur dengan massa yang anti pada pemerintahan Jokowi. Yang menyedihkan kali ini, nampaknya para pendukung Jokowi yang masih lugu lugu, polos soal politik begitu mudah di manfaatkan oleh mereka yang sejak lama anti dan bernafsu ingin menjatuhkan Presiden Jokowi. Rakyat Papua dan sebagian besar mahasiswa yang awalnya pendukung berat Jokowi, sekarang mulai banyak yang terhasut hingga mereka mulai bringas pada Pemerintahan Jokowi, hingga melakukan berbagai aksi di sana sini. Sebagai Agent Of Social Change mahasiswa memang sangat wajar untuk bersikap kritis pada kebijakan kebijakan Pemerintah, namun ketika sikap kritis itu tidak di tunjang oleh pemahaman peta politik yang memadai, mahasiswa hanya akan dijadikan budak atau alat dari segelintir mafia politik yang ingin memanfaatkan aksi aksi mahasiswa untuk meraih keuntungan politik dan ekonominya sendiri.

Cerdik tapi licik, itulah yang pantas kita lontarkan kepada para mafia politik yang sedang bermain api di minggu minggu terakhir ini. Saya katakan cerdik karena mereka bisa memahami rahasia besar dapur politik kubu Jokowi, khususnya semenjak Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri pada kongres di Bali bulan agustus 2019, terang terangan di depan publik menyemprot kader partainya yang terpilih kembali jadi Presiden, yakni Jokowi, dan tidak malu malu memaksa Jokowi untuk menyiapkan posisi menteri terbanyak dari partainya. Kecerdikan mereka kedua adalah ketika mereka dengan jelas melihat kubu pendukung Jokowi dari kalangan Politisi hingga Mahasiswa dan LSM mulai terbelah, khususnya sebelum dan sesudah disahkannya UU KPK, serta rencana disahkannya RUU KUHP, RUU kemasyarakatan dan UU Pertanahan.

Kemudian selanjutnya saya katakan mereka juga cerdik, karena mereka memanfaatkan semua itu di jadikan sebagai amunisi isu politiknya untuk mengagalkan pelantikan Jokowi sebagai Presiden di Bulan Oktober 2019 mendatang. Maka digerakanlah berbagai aksi mahasiswa di beberapa koata untuk menentang pengesahan UU KPK, serta RUU KUHP, RUU Kemasyarakatan dan Revisi UU Pertanahan. Terakhir saya juga sudah mendengar akan terjadi aksi besar besaran lagi dalam waktu dekat ini yang melibatkan berbagai kampus dari beberapa penjuru tanah air, bahkan ada beberapa kampus di Yogyakarta yang mendukung aksi damai mahasiswa untuk menyikapi dan menyuarakan aspirasi melalui beragam kanal yang konstitusional . Selain itu sudah menjadi rahasia umum, kerusuhan di Papua beberapa waktu yang lalu tak terlepas dari salah satu cara mereka untuk menciptakan instabilitas politik dan keamanan nasional, yang di harapkan wibawa Pemerintahan Jokowi jatuh hingga agenda Pelantikan Presiden Oktober 2019 mendatang bisa digagalkan. Hari ini saya juga mendengar, di Wamena papua kembali rusuh, beberapa gedung dibakar oleh gerakan massa yang masih belum jelas, dan Terjadi korban pada kejadian tersebut yang bernama Zulkifli Alkarim anggota Yonif RK 751/VJS meninggal dunia pada saat Pam aksi unjuk rasa di expo Wamena Papua, di perkirakan meninggal karena terkena benda tajam dikepala bagian belakang kiri. Aksi di papua tersebut terjadi beberapa titik yang berbeda secara bersamaan. Maka sangatlah tidak mungkin jika ini di lakukan seara spontan, melainkan sudah pasti sangat terencana !!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.