Forum Pemuda Peduli Majalengka Ajak Rajut Kembali Persatuan dan Kesatuan Pasca Pemilu 2019

oleh -17 views

MAJALENGKA, korandesa.id – Puluhan pemuda/pemudi yang menamakan dirinya Forum Pemuda Peduli Majalengka, gelar publik discussion dalam rangka merajut kembali persatuan dan kesatuan pasca pemilu 2019 di salah satu cafe di Majalengka. Minggu(28/7).

Mereka, pemuda peduli berasal dari berbagai kalangan. Baik organisasi maupun komunitas yang peduli terhadap adanya residu serta polarisasi pasca Pemilu untuk kembali merajut kembali tali silaturahmi karena berbeda pilihan politik.

Diskusi yang dimotori oleh aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Majalengka, Forum Pemuda Peduli Majalengka, Himpunan Mahasiswa Majalengka (HIMMAKA), Keluarga Mahasiswa Majalengka Jakarta (KEMKA Jakarta), Bincang Majalengka. Pembicara pada kesempatan itu datang dari Birokrat, Akademisi, bahkan pengamat media sosial

Edi Apriadi sebagai pelaksana kegiatan ini menyampaikan, “Pemuda milenial saat ini harus mampu berperan dalam segala aspek apalagi dalam menjaga marwah, memperjuangkan persatuan dan kesatuan NKRI. Kegiatan diskusi ini akan menjadi awal langkah membangun literasi yang ada di majalengka dan akan intens dilakukan sebulan sekali bersama Bincang Majalengka, untuk menanggapi kebijakan pemerintah dan menanggapi isu-isu di daerah ataupun isu nasional,” Ujarnya.

Abdul Hasim selaku koordinator Forum Pemuda Peduli Majalengka menambahkan, “Kegiatan ini juga mengajak pemuda agar lebih bijak dalam memilih berita dan memverifikasi terlebih dahulu kebenaran dari berita yang disajikan,” Tambahnya.

Dalam pemaparannya, Komisioner Bawaslu Alan Barok Ulumudin menyebutkan, peran central pemuda sebagai sosial kontrol harus dapat meredam gejala-gejala yang timbul kontestasi lima tahunan yang dalam hal ini Pemilu.

Dijelaskan dia, Gejolak yang terjadi di masyarakat akibat Pemilu imbasnya sangat dirasakan. Mulai dari perpecahan antar teman, keluarga maupun suku merupakan hal yang wajar terjadi. Namun kata Alan, bukan berarti kewajaran itu terus berlanjut walaupun Pemilu sudah usai.

“Perpecahan pasca Pemilu itu hal yang wajar, namun kadar wajar itu harus dalam waktunya,” ungkap dia.

Alan menyebut jika pemuda harus bisa mengembalikan keharmonisan masyarakat untuk melanjutkan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai bhineka tunggal ika.

Ditempat yang sama, pemateri dari kalangan birokrat Wawan Suhendi mengemukakan permasalahan-permasalahan urgent pasca Pemilu. Dia merasakan betul presur-presur yang masuk kedalam birokrasi yang seharusnya seorang birokrat bersikap netral. Ini yang harus disikapi dengan arif dan bijaksana.

Dia juga menyinggung peran pemuda dalam masyarakat. Dia menilai, pemuda memiliki andil besar dalam hal kesatuan dan persatuan. Bukan hanya itu, pengimplementasian nilai pancasila harus menjadi indikator peran pemuda.

“Kita tahu pemuda dalam sejarahnya membangun NKRI, kita sebagai generasi penerus harus menitu semangat juang pemuda dulu dalam mengabdi kepada masyarakat,” ujar alumni aktivis 98 itu. (**)