Inilah Hasil Reses Masa Sidang I Anggota Komisi IV DPR RI Dr. H. Sutrisno. SE.,M.Si

oleh -7 views

Jakarta, korandesa.id – Dalam reses masa persidangan I (2019 – 2020), semua anggota DPR RI melakukan kunjungan kerja ke daerah pemilihannya ( Dapil ) masing masing, untuk menyerap aspirasi dari masyarakat. Kunjungan kerja tersebut berlangsung selama 9 hari dari mulai tanggal 23 samapai 31 Desember 2019.

Seperti halnya yang dilakukan salah satu anggota komisi IV DPR RI dari fraksi PDIP DR. H. Sutrisno. SE., M. Si. Ia selama sembilan hari terus bergerilya menemui warga di dapil IX SMS, dan dari hasil pertemuan tersebut H. Sutrisno menemukan persoalan persoalan berikut.
1. Beras yang terakhir masuk Gudang Bulog adalah hasil pengadaan bulan Maret dan April 2019 dari beras hasil panen MT I ( 2018 – 2019 ). Kwalitas, respon pasar dan harga beras MT I ( rendengan ) lebih rendah dibandingkan dengan beras MT II maupun MT III. Permaslahanya, bila tidak ada strategi khusus dalam pola pengadaan, pengelolaan dan pendistribusian, beras Bulog akan sulit masuk ke pasar, sehingga pendistribusian beras dari gudang sepenuhnya hanya akan mengandalkan kebutuhan pemerintah. Akibatnya stok beras di gudang dari waktu ke waktu menumpuk dan otomatis kwalitasnya akan menurun.
2. Beras lainya yang ada di gudang Bulog adalah beras KOM MEDIUM 20% 2018 hasil pengadaan bulan Maret dan April 2018 serta hasil impor tahun 2018 dari Vietnam dan Thailand yang masuk ke gudang Bulog bulan Maret, April, Juni dan September 2018. Dari hasil pengechekan secara fisik, beras Vietnam dengan patahan 15% yang masuk tanggal 27 September 2018 dan beras Thailand dengan patahan 5% yang masuk tanggal 4 Juni 2018 kwalitasnya menurun agak menguning dengan aroma agak kurang sedap ( agak apak ).
3. Diantara beras DN ( Lokal ) hasil pengadaan sebelum tahun 2019 ditemukan ada yang sudah disposal ( busuk ), jangankan beras karungnyapun sudah menguning dipenuhi binatang berterbangan ( kutu beras ) yang apabila nempel di tubuh sangat gatal. Dari fakta ini sepertinya ada beras lain selain dari hasil pengadaan tahun 2018 dan 2019 atau bila tidak beras – beras lokal hasil pengadaan 2018 dalam keadaan busuk.
4. Kondisi beras Bulog di gudang – gudang yang ada pada tiga daerah yang dikunjungi dapat diyakini secara signifikan sama seperti yang ada di gudang – gudang daerah lainnya, hampir seluruhnya telah terjadi penurunan kwalitas bahkan ada yang telah disposal.
5. Sinyalemen pada angka empat diatas dapat diperkuat dari argumentasi bahwa secara kuantitatif stok cadangan beras Bulog akhir tahun 2019 sebanyak 2.249.757 Ton setelah dikurangi pengeluaran beras CBP selama tahun 2019 sebanyak 457.872 Ton menunjukan ketersediaan cadangan beras nasional cukup kuat selama ini. Mengapa masih ada impor? Karena secara kualitatif cadangan beras yang ada tidak cukup aman karena kwalitasnya menurun bahkan ada yang sudah disposal.

6. Menumpuknya stok beras di gudang – gudang Bulog dengan kwalitas yang sudah menurun, Bulog sebagaimana yang disampaikan para pejabatnya pada saat Kunker, kesulitan untuk dapat menyerap gabah/beras pada panen MT I ( 2019 – 2020 ) yang akan panen raya pada bulan Maret 2020. Sebagai konsekuensinya ketersediaan pangan nasional akan terganggu, terjadinya beras disposal akan terus berlanjut, impor beras tidak bisa dihindari.

Menurut Sutrisno munculnya persoalan tersebut perlu ada solusi, dan untuk menjawab semua itu, waktu yang tepat dengan resiko kerugian yang kecil dalam menyelesaikan permasalahan beras Bulog adalah sekarang, sebelum Panen Raya tiba.
Bila tidak, dari tahun ke tahun pemerintah akan menghadapi permasalahan beras disposal, impor beras dan penyediaan CBP yang akan bermuara pada beban keuangan negara yang tidak sedikit. Solusi yang ditawarkan :

1. Jangka Pendek
(a). Pemerintah bekerjasama dengan BPK perlu segera melakukan pengechekan langsung ( Checking On The Spot ) ke gudang – gudang Bulog untuk memastikan jumlah beras yang telah disposal dan dalam waktu dekat akan disposal serta beras yang menurun kwalitasnya tetapi masih layak dikonsumsi baik dengan melepas langsung ke pasar maupun dengan terlebih dahulu melalui proses pengolahan ulang.
(b) Mengosongkan beras – beras tersebut dari gudang – gudang Bulog baik melalui pelelangan maupun dilepas langsung ke pasar. Dengan memperhitungkan Cadangan Beras Darurat untuk kebutuhan tak terduga ( Safety Stock ) pemerintah dua bulan kedepan. Agar Perum Bulog dapat melakukan penyerapan gabah/beras hasil panen petani 2020 ini.
(c) Menyelesaikan kewajiban keuangan antara pemerintah dengan Perum Bulog atas penugasan pemerintah kepada Perum Bulog dalam rangka Ketahanan Pangan Nasional.

2. Jangka Panjang
(a) Mewajibkan Perum Bulog menjalankan managemen pengadaan, pengelolaan dan pendistribusian beras/pangan secara profesional dengan mengidahkan ketentuan perundang – undangan yang berlaku, sehingga dimasa – masa mendatang terjadinya beras disposal akan dapat dihindari, sesuai yang diamanatkan pada pasal 8 ayat 1 PP Nomor 13/2016 tentang Perum Bulog.
(b) Perum Bulog dalam mengamankan harga pangan pokok beras ditingkat produsen dan konsumen ( amanat pasal 3 ayat 1a PP Nomor 13/2016 ), hendaknya dijalankan dengan menyeimbangkan penyerapan dan pendistribusianya, agar ketersediaan pangan pokok beras dan stabilisasi harganya dapat terjaga ( pasal 3.2 Perpres Nomor 48/2016 ) dan sirkulasi beras digudang berjalan lancar, sehingga terjadinya beras disposal dapat dihindari.

Demikianlah hasil dari blusukan anggota komisi IV DPR RI DR. H. Sutrisno. SE., M. Si., pada masa reses persidangan I (2019/2020) di Dapil Sumedang, Majalengka dan Subang. ( KD – 01 )

130 thoughts on “Inilah Hasil Reses Masa Sidang I Anggota Komisi IV DPR RI Dr. H. Sutrisno. SE.,M.Si

Komentar ditutup.