Islam Merupakan Solusi Cetak Generasi Mulia

oleh -21 views

Oleh : Siti Susanti, S. Pd.

(Pengelola Majlis Zikir Assakinah Bandung)

Setiap orang tua tentu berharap memiliki anak yang cerdas dan shalih. Berbagai upaya rela dilakukan untuk mencapai tujuan ini, termasuk menyekolahkan anak. Jika mungkin, dimasukkan ke sekolah yang berkualitas.

Tidak terbayangkan sebelumnya, masalah justru muncul dalam proses pembelajaran. Hal ini tentu akan membuat para orang tua ketar ketir.

Baru-baru ini, dunia pendidikan dihebohkan dengan temuan situs tidak senonoh yang berada di dalam buku sosiologi kelas 12 setara SMA. Fakta ini pertama kali diketahui oleh guru yang sedang mempersiapkan materi pembelajaran daring. Ketua Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) Jawa Barat yang juga Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi Jawa Barat, Iwan Hermawan membenarkan hal itu. Ia meminta pemerintah segera melakukan pemblokiran situs tersebut (tribunnews.com, 11/2).

Pada mulanya situs tersebut berisi budaya Sunda. Namun karena tidak terurus, mungkin dibeli oleh pihak lain. Ironis, buku tersebut sudah lama digunakan oleh siswa. Tidak terbayang, berapa siswa yang sudah melihat situs tersebut.

Patut disayangkan, kejadian seperti ini sampai luput dari perhatian bahkan dibiarkan dalam waktu relatif lama. Dengan demikian, tujuan pendidikan yaitu menciptakan manusia seutuhnya akan semakin sulit tercapai.

Peristiwa ini menjadi salah satu bukti, abainya negara dalam mencapai tujuan pendidikan. Hal ini disebabkan sekulerisme yang dijadikan asas pendidikan di negara kita. Sekulerisme menjadikan kehidupan termasuk aspek pendidikan dijauhkan dari nilai-nilai agama. Agama dipelajari sebatas saat pelajaran agama saja. Wajarlah, jika ditemukan proses pendidikan yang jauh dari nilai-nilai agama.

Dalam alam kapitalisme, saat ini, segala sesuatu dinilai berdasarkan keuntungan materi. Jika sesuatu dianggap menguntungkan, maka akan menjadi fokus perhatian. Dan sebaliknya, tidak akan diambil jika merugikan. Maka tidak aneh, penyediaan sarana prasarana pendidikan terkesan seadanya. Buku paket sebagai salah satu penunjang terpenting dalam pendidikan, justru luput dari perhatian. Bahkan, sebagiannya diserahkan kepada penerbit swasta.

Negara dalam sistem kapitalisme bertindak hanya sebagai fasilitator pendidikan. Pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing pihak. Sehingga, manajemen pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi tidak dilaksananakan secara penuh konsentrasi oleh negara. Akibatnya, muatan-muatan materi pembelajaran tidak terperhatikan.

Berbeda dengan Islam, yang menjadikan aqidah Islam/keimanan sebagai dasar dalam pendidikan. Maka, segala aspek akan dibangun berdasarkan keimanan dan tidak dibolehkan menyimpang darinya.

Prinsip Islam, belajar adalah kewajiban bagi setiap muslim. Banyak dalil yang mendorong kaum Muslim untuk menuntut ilmu. Diantaranya, Allah Ta’ala meninggikan orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat ( lihat surat almujadalah :11). Secara individu, seorang muslim akan antusias dalam menuntut ilmu, karena ia adalah termasuk amal salih dan berpahala. Meninggalkannya berarti berdosa.

Adapun dari segi penyediaan sarana prasarana pendidikan, merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada negara. Islam memandang, pendidikan adalah bagian dari kebutuhan mendasar rakyat. Ini tidak lain, karena Islam menjadikan kepala negara sebagai pelayan masyarakat sebagaimana hadits Nabi SAW: ” Imam (kepala negara) adalah rain(pelayan rakyat), dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas pelayanan kepada rakyatnya”.

Negara dalam Islam akan memenuhi hak-hak rakyat. Karena hal tersebut sebagai bagian dari amal salih negara yang akan beroleh pahala. Dan mengabaikannya adalah berdosa. Negara dilarang untuk menjadikan pengurusan rakyat sebagai ajang untuk meraih keuntungan materi. Maka, manajemen pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pendidikan benar-benar akan diperhatikan agar tidak menyimpang dari aqidah Islam.

Tujuan pendidikan dalam Islam adalah dalam rangka mewujudkan kepribadian Islam. Yakni pola berfikir dan bersikap Islami. Seluruh aspek dalam proses pendidikan akan diarahkan menuju tujuan ini. Baik dari segi metode, kurikulum, hingga teknis pembelajaran. Maka, tidak akan ditemukan konten-konten yang bertentangan dengan tujuan ini.

Konsep- konsep pendidikan Islam yang paripurna pernah diberlakukan saat Islam berjaya, yakni pada masa kekhilafahan. Output tokoh-tokoh muslim pada zamannya, menjadi bukti nyata bahwa pendidikan Islam mampu mencetak para faqih(menguasai) ilmu agama sekaligus cendekiawan dalam sains teknologi. Maryam Al Asturlabi, Ibnu Sina, Al khawarizmi, diantaranya. Mereka mampu menembus batas waktu dan tempat karena keilmuan mereka.

Keagungan konsep Islam tentunya hanya bisa diterapkan secara sempurna ketika sistem kehidupannya mendukung. Para ulama menyebut sistem ini sebagai sistem kekhilafahan. Kebutuhan akan sistem ini tampaknya semakin mendesak untuk diwujudkan. Agar pengurusan kehidupan termasuk pendidikan kembali mencapai puncak kemuliaan.

Wallahu a’lam….