NIKSON NABABAN, UNIVERSITAS NEGERI TAPUT CITA CITA BUDI LUHUR

oleh -5 views

Bupati Nikson Nababan Terjemahkan Pendirian Universitas Negeri Dari Filosofi “ ANAKKON KI DO HAMORAON DI AU” Dan Sejarah DR. IL. NOMENSEN Untuk Pertumbuhan Ekonomi Baru Di Bumi Tapanuli Raya

· Jendela Kasih “ Garam Dan Terang ” Keberagaman Suku Dan Agama

Tapanuli Utara, Koran Desa. Hadirnya Universitas Negeri di Tapanuli Utara terus didengungkan Bupati Taput Drs. Nikson Nababan, M.Si sebagai solusi untuk Tapanuli Utara lebih maju dan sejahtera. Leletnya perkembangan perekonomian di Tapanuli Utara yang disebabkan banyak factor menjadi sebuah perenungan bagi Bupati Nikson Nababan untuk terus memperjuangkan berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Utara.

Berangkat dari Filosofi Orang Batak “ Anakkonki Do Hamoraon Di Au “, Bupati Nikson Nababan memahami betul karakter dan budaya orang batak. Dimana kondisi paling tepuruk pun sebuah rumah tangga orang batak akan tetap mengupayakan anaknya sekolah, minimal satu orang harus sampai menginjak pendidikan hingga perguruan tinggi dan menggapai gelar sarjana.

Dari Filosofi itu, Nikson Nababan menganggap sebagai anak-anak bangsa yang sudah tumbuh sebagai generasi penerus harus melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi yang sebelumnya telah dimerdekakan Missionaris DR. IL. Nomensen di Tapanuli Raya.

Kita akui, Tuhan telah memilih Nomensen dalam konteks kekristenan. Akan tetapi pada hakekatnya, tugas sebenarnya yang diemban Nomensen itu melepas orang batak dari Kebodohan, Ortodoks dan Hadatuaon.

Seandainya kalau usia Nomensen hingga 500 tahun, barangkali sampai Universitas Negeri pasti didirikan di Tapanuli Utara. “ Tapi umur Nomensen tidak sampai segitu, maka kitalah yang akan meneruskan perjuangan dan cita-cita Nomensen itu, bagaimana melepaskan kita dari kebodohan dan kemiskinan,” ungkap Nikson Nababan dihadapan ketua tim pengkaji pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya Profesor Marlon Sihombing didampingi Sosiolog USU Junjungan Simanjuntak, Senin (21/09/2020) di Sopo Rakyat Rumah DinasBupati Tarutung.

Kita semua sudah orang-orang pintar, orang-orang yang sudah maju dalam konteks ilmu pengetahuan, tapi kita belum lepas dari peta kemiskinan. Satu hal yang harus kita pahami, Triger pembangunan ekonomi ada pada sekolah dalam konteks Tapanuli Raya yang sifatnya umum. Maka itulah yang mendasari saya, kenapa mereka bisa, kita tidak bisa mewujudkan mimpi itu.

Kedua, kita juga harus belajar dari perkataan orang-orang pintar, bahwa kalau ingin maju sebuah daerah, maka belajarlah dari sejarah. Sejarah yang saya maksud itu adalah filosofi dari leluhur orang” Batak dan cita-cita Nomensen”. Maka ada yang belum sempurna, yaitu pendidikan yang dilakukan Nomensen itu bagaimana sampai ketingkat yang lebih tinggi harus ada di Tapanuli Raya.

Untuk mewujudkan itu bukanlah hal yang gampang, tentu banyak tantangan, rintangan dan butuh pengorbanan. Juga mengharapkan dukungan dari Pemerintah Daerah di Tapanuli Raya, Stakeholders dan unsur elemen masyarakat lainnya.

“ Berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Raya dengan mentransformasi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) menjadi sebuah Universitas Negeri harus kita pahami secara bijkasana,”ungkap Nikson.

Rencana besar ini tinggal mengaktualisasi melalui sebuah dokumen, bagaimana dokumen itu tertata dengan rapi yang didalamnya sudah dimuat keinginan masyarakat, kajian dan analisa serta dukungan-dukungan dari berbagai elemen, Ormas, tokoh agama, tokoh adat dan organisasi kemahasiswaan, termasuk dukungan dari petinggi di republik ini termasuk penentu kebijakan yaitu Presiden Jokowi.

Saat ini kita sudah kantongi dua dukungan pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya (UNTARA) dari dua lembaga tertinggi dan tinggi negara, yaitu, dukungan dari ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat kunker ke Tapanuli Utara tanggal 28 Februari 2020.

Dan dukungan dari ketua DPD RI AA Lanyala Mahmud Mattalitti saat kunker ke Tapanuli Utara selama dua hari (17-18/09/2020). “ Tinggal menunggu dukungan dari DPR RI dan Pak Presiden RI Joko Widodo. “ Artinya sudah fifty-fifty,”tegasnya.

Dalam hal ini, bupati mengajak tim pengkaji untuk semakin menguatkan dokumen-dokumen, sehingga tidak ada celah sedikitpun untuk melemahkan rencana besar kita, yaitu berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Raya.

Niat dan harapan besar saya berdirinya Univesitas Negeri di Tapanuli Raya, ketika saya melihat dan mengamati Yogjakarta, Bandung dan Malang begitu luar biasa besarnya karena sebuah Universitas Negeri. Bukan hanya besar, tapi maju dari barbagai aspek perekonomian.

Tahun 2015 pertama sekali saya lontarkan ide pendiran Universitas Negeri di Tapanuli Utara. Kemudian tahun 2016, saya buat proposal pengusulan Universitas Negeri ke tingkat Menteri dan Presiden. Pada saat itu, sudah ada perintah Presiden Jokowi untuk membahas proposal pengusulan itu.

“ Ehhh rupanya, tahun 2017 ada bisikan-bisikan yang membuat rencana ini gagal. Orang Kristen akan demo bila IAKN diubah menjadi Universitas Umum, sehingga ditunda oleh Presiden Jokowi. Tahun 2018 tahun Pilkada dan tahun 2019 menyelesaikan Pilkada. Menurut saya, tahun 2020 lah waktu yang tepat untuk memulai lagi membahas pendirian Universitas Negeri di bumi Tapanuli Raya,” papar Nikson yang pada saat itu didampingi Wabup Sarlandy Hutabarat, SH, ketua DPRD Taput Ir. Poltak Pakpahan dan Sekda Indra Simaremare.

Resiko politik memang banyak saya hadapi ketika memperjuangkan Universitas Negeri ini, tapi kita harus siap menghadapi segala resiko. Tapi menurut saya, apa yang kita lakukan bukan semata-mata untuk menyelamatkan ekonomi kita, bukan sekedar membuat SDM kita unggul, tapi juga menyelamatkan kekristenan kita.

Menurut saya, menyelamatkan kekristenan menjadi sebuah analisa yang sangat luar biasa. Kita tidak mau ada aliran-aliran yang membuat doktrin sendiri, sehingga gereja bisa pecah-pecah. Ini yang sangat kita khwatirkan menghapus kekristenan secara konotasi saat IAKN ditranspormasi menjad Universitas Umum.

Kemudian akan semakin menumpuk pengangguran-pengangguran tahun demi tahun yang akan menghilangkan doktrin “ Kasihilah Sesamamu”. “ Data seperti ini tidak perlu masuk dalam sebuah dokumen. Kita perlu fakta-fakta yang akurat untuk dikombinasikan dalam sebuah dokumen,” pinta Nikson kepada ketua tim pengkaji pendirian Universitas Negeri Profesor Marlon Sihombing.

Kita sudah tau lulusan IAKN untuk kenaikan eselon agar bisa mengajar harus sekolah lagi mengambil akta empatya. Apa ini gak menjadi tantangan buat kita, jadi untuk apa ada kampus itu.

Sempat viral lulusan IAKN masuk PNS di Sibolga tapi tidak bisa dilantik jadi PNS, apa hal ini tidak menjadi tantangan buat kita.

Inlah yang akan kita cermati dan menjadi tambahan buat kita, bagaimana mengkaji arti pentingnya Universitas Negeri di Tapanuli Raya. Bagaimana kajian tentang IAKN atau Universitas Kristen Negeri Raya tapi tetap dikelola Kemendikti bukan Kementrian Agama.

Manejemen Resiko harus menjadi bagian kajian kita juga. Bahwa apa resiko IAKN kedepan, apa resiko Universitas Negeri Umum kedepan yang sempat menjadi perdebatan akan banyak masuk islam ke Tapanuli Raya, akan terjadi islamisasi.

Bagaimana mungkin terjadi islamisasi, sementara kita tau sendiri, orang batak sangat care terhadap keyakinan. Melalui ajaran kasih yang sudah mendarah daging bagi tubuh kristen dengan membuka jendela “Garam Dan Terang”, orang bisa melihat toleransi kerukunan antara umat beragama di Tapanuli Utara sangat luar biasa.

Bisa kita bayangkan UNTARA ini akan bisa menyumbang kepada pemimpin yang berjiwa pancasilasi dan berjiwa nasionalis. Kita bisa bayangkan, kalau orang dari Banten dan Jawa datang kuliah ke Tapanuli Raya.

Setelah mereka kuliah, mereka akan melihat gereja menyebar dimana-mana, lapo dimana-mana. Saya pikir ini akan menjadi sebuah pelajaran agar mereka tidak akan alergi melihat salib, gereja atau minoritas.

Dan kita harapkan dan pasti kita yakini 99 persen ketika mereka pulang kuliah atau ketika mereka sudah menjadi pemimpin di negeri ini. Chemistrynya akan menjadi baik bagi orang batak.

“ Rumor yang selama mengatakan Islamisasi justru kita balikkan menjadi strength, karena apa, karena ada garam dan terang. Kita harus membuka diri, Tapanuli Raya harus menjadi jendela bagi keberagaman suku dan agama melalui Universitas Negeri,”tegasnya.

Sumut hanya memiliki empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kalau kita kalkulasikan secara detail, penduduk Sumatera Utara sekitar 16 juta penduduk tentu masih bisa kita minta berdirinya sebuah Universitas Negeri untuk mengcover Tapanuli Raya, Simalungun, Karo, pecahan Tapsel dan Labuhan Batu Raya.

“ Untuk Universitas Negeri yang sudah ada, sudah bisa mengcover kota Medan, Tebing Tinggi, Langkat, Serdang Bedagai dan Deli Serdang. Apalagi kalau nanti ditingkatkan perguruan tingginya masuk Zonasi. Kalau sempat masuk Zonasi, kemanalah anak-anak kita untuk kuliah. Makanya yang kita perjuangkan ini harus cepat dan tepat sasarannya,” kata Nikson.

Maka tugas-tugas yang harus segera kita tingkatkan adalah menggali sedalam-dalamnya apa yang bisa menjadi analisis swot sedetail mungkin. Artinya, ketika kita nanti ekspos, hal terkecilpun sudah bisa kita jawab.

Terkait adanya pro dan kontra dalam pendirian Universitas Negeri, Nikson mengatakan, sebuah keputusan ataupun kebijakan pasti ada pro dan kontra. “ Tapi saya yakin, bila mereka tau berdirinya Universitas Negeri akan melepaskan kita dari kebodohan dan kemiskinan bahkan trigger percepatan pertumbuhan ekonomi di Tapanuli Raya, kedepannya akan baik-baik saja,” ungkapnya.

KEBERADAAN UNIVERSITAS DI TAPANULI RAYA MENJADI MAGNET PERTUMBUHAN EKONOMI BARU

Ketua tim pengkaji pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya Profesor Marlon Sihombing mengatakan, dengan berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Raya akan menjadi magnet baru bagi pertumbuhan ekonomi di daerah sekitarnya.

Pasalnya, orang akan berdatangan dari luar daerah, yang tentunya membawa nilai materi ke daerah dimana Universitas Negeri itu berada. Belum lagi mahasiswa yang datang untuk kuliah dari luar Tapanuli Raya. Kebutuhan sandang, pangan maupun perumahannya pasti akan bersumber dari seputaran Tapanuli Raya.

Bukan hanya mahasiswa, dosen pun akan datang kemari bahkan memboyong keluarganya tinggal disini. Inilah yang saya sebut kekuatan ekonomi baru akan terpantik dengan sendrinya.

“ Selama ini dalam kajian kita orang tua dari wialayah Tapanuli Raya selalu ekspor uang setiap bulannya ke luar Tapanuli Raya untuk biaya hidup anaknya yang kuliah. Jika universitas ada disini, uang itu akan berputar disini,” ujar Marlon Sihombing dalam paparannya dengan agenda progress penyiapan dokumen transformasi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) menjadi Universitas Negeri.

Belum ada satu daerah yang tidak maju dan berkembang bila daerah itu sudah berdiri Universitas Negeri. “ kita bisa lihat Yogjakarta dengan UGM nya, Bandung dengan ITB nya, Depok dengan UI nya dan Malang dengan beberapa Universitas Negeri dan Swastanya, semua diminati pemburu sumber daya manusia. Jika UNTARA berdiri tidak akan mematikan universitas sekitarnya, namun justru menjadi perangsang,” papar Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik USU itu.

Saat ini lanjut Marlon, saat ini sedang proses perlengkapan dokumen kajian teknis syarat transformasi IAKN menjadi Universitas Negeri. Universitas Negeri ini dapat jadi spanduk besar miniature keberagamaan, pemahaman karakter warga Tapanuli Raya untuk wadah mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas sesuai visi-misi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara.

MPR RI & DPD RI DUKUNG BERDIRINYA UNIVERSITAS NEGERI DI TAPANULI RAYA

Dukungan berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Raya (UNTARA) datang dari lembaga tertinggi dan tinggi negara, yakni MPR-RI dan DPD-RI melalui dukungan yang telah ditandatangani secara bersama.

“ Saya setuju dengan pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya. Saya sudah melihat secara langsung potensi Danau Toba. Pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya merupakan salah satu solusi untuk kemajuan wisata Danau Toba sebagi salah satu destinasi wisata Indonesia,” ujar ketua MPR-RI Bambang Soestyo disela-sela kunkernya ke Taput untuk mensosialisasikan empat pilar MPR-RI, Jumat (07/02/2020).

Kata Bambang Soesatyo, saya sudah berdiskusi dan meminta kepada Menteri Agama supaya menggeser status Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) menjadi Universitas Negeri di Tapanuli Raya. Artinya, statusnya akan dialihpunsikan menjadi Universitas Negeri.

“ Saya juga minta agar tokoh-tokoh batak yang bisa memajukan bangsa ini agar dimimta buah pikirannya. Kita dorong para tokoh batak untuk membujuk Presiden Jokowi agar secepatnya menandatangani pendirian Universitas untuk kemajuan daerah tapanuli,”pinta Bambang Soesatyo, SE MBA.

Dukungan pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya dilontarkan ketua DPD RI AA Lanyala Mahmud Mattalitti saat kunker ke Tapanuli Utara, (17-18/09/20200 dengan menandatangi surat dukungan tersebut.

“ Saya datang kesini untuk menyerap aspirasi daerah, pertama tentang pendidikan. Kami para senator di DPD mendukung Tapanuli Raya memiliki Universitas Negeri melalui peningkatan status IAKN menjadi Universitas Umum. Hambatan dan mengapa belum mendapat lampu hijau dari kementrian terkait, kami jungan ingin mengetahuinya lebih bijaksana,” tegas Mattalitti.

DUKUNGAN ORGANISASI MAHASISWA

Bupati Taput minta kepada Gubsu dan Ketua Komisi D DPRDSU agar mendukung pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya agar cepat terwujud saat kunker komisi D DPRDSU yang dipimpin ketua Anwar Sani Tarigan, Kamis (24/09/2020 bersama anggota.

“ Melihat kegigihan dan perjuangan pak bupati, kami terharu bupati terus mendobrak hingga ke pemerintah pusat agar anggaran dapat dibawa ke Taput. Kami dari komisi D DPRDSU untuk bersama-sama mendukung dan ikut memperjuangkan program kemajuan Taput bahkan Tapanuli Raya,”tegasnya.

Dukungan lain datang dari Garda Muda Tapanuli Utara yang menginginkan UNTARA berdiri untuk memajukan kualitas SDM dan perekonomian masyarakat Tapanuli Raya secara umum. “ Sebagai kaum millennial, kami menilai UNTARA menguntungkan bagi calon-calon mahasiswa yang berasal dari region tapanuli tidak perlu jauh-jauh lagi kuliah ke luar kota,” kata Anugerah Sastra Ompusunggu, Selasa (1/9/2020.

Dengan berdirinya sebuah Pergurun Tinggi Negeri (PTN) di Tapanuli Raya memiliki banyak keuntungan. “PTN tersebut tidak hanya menerima calon mahasiswa dari kalangan pemuda Kristen, tetapi dari semua kalangan termasuk pemuda beragama islam dan lainnya,” ujar ketua Badan Kordinasi HMI Sumut Alwi Hasbi Silalahi, Sabtu (15/2/2020).

Dukungan yang sama datang dari ketua DPD GMNI Sumut Paulus Gulo yang mengatakan, mendukung penuh wacana pendirian Universitas Negeri yang sudah lama dirintis Bupati Taput Drs. Nikson Nababan,

Pengurus DPP GMKI mendukung penuh pendirian UNTARA demi peningkatan perekonomian. “Terobosan Bupati Taput Drs. Nikson Nababan harus didukung karena muncul dari pemerintahan itu sendiri, maka harus dikawal dan
disambut dengan positip, sebut David Sitorus, Dompak Hutasoit dan Struggle Sihombing, Rabu (19/2/2020) .KD