Pusat Komando Ketahanan Pangan Jabar, Antara Inovasi dan Solusi Hakiki

oleh -34 views

Ditulis Oleh :

Lilis Suryani (Pegiat Literasi Kab. Majalengka, dan seorang Guru Paud di Lembaga Paud Al-Jabar)

Prediksi bahwa Jabar akan mengalami krisis pangan pada tahun 2021 ini, mengharuskan Jabar melakukan berbagai usaha antisipasi. Seperti program petani millenial, digitalisasi pangan, program Indonesia berkebun, hingga peningkatan produksi pangan. Diharapkan semua program bisa berjalan secara efektif dan efisien. Bersinergi dengan hal itu, Pemda Jabar akan membentuk Pusat Komandan Ketahanan Pangan dikarenakan kebutuhan Pemda terhadap digitalisasi data. Hal ini berfungsi sebagai sistem kewaspadaan atau early warning system supaya daerah rawan pangan dan potensi bencana bisa diketahui secara cepat

Seperti di kutip pada website resmi Humas provinsi Jawa barat, bahwa Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) intens mematangkan rencana pembentukan Pusat Komando Ketahanan Pangan. Nantinya, pusat komando tersebut berbentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jabar. Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, landasan pembentukan Pusat Komando Ketahanan Pangan Jabar adalah adanya kebutuhan melakukan digitalisasi data, baik mengenai pangan dan gizi. Menurut Kang Emil, pembentukan Pusat Komando Ketahanan Pangan Jabar sesuai dengan visi Jabar Juara Lahir Bantin dengan Inovasi dan Kolaborasi.

” Isinya inovasi dan kerjanya kolaborasi, ini menandakan bahwa urusan pembangunan ini tidak melulu domain pemerintah,” ucapnya.

Tujuan dari pembentukan komando ketahanan pangan sebagaimana diungkap di awal adalah untuk digitalisasi data pangan. Hal ini sesuai dengan visi Jabar juara lahir batin dengan inovasi dan kolaborasi. Adapun, inovasi dan kolaborasi ini dibangun dengan melibatkan ABCGM (Akademisi, Business, Company, Government, Media).

Begitupun dengan Pengadaan Pusat komando ketahanan pangan ini tak lepas dari prediksi Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa barat, bahwa 2021 akan terjadi krisis pangan dan beliaupun melibatkan milenial dalam hal ini. Namun, hal tersebut sama saja dengan menipu rakyat bahwa dengan inovasi dan kolaborasi dalam pangan dapat memberi solusi atas ketahanan pangan sementara rakyat dijauhkan dari akar masalah sebenarnya.

Penerapan sistem kapitalisme lah sesungguhnya yang menyebabkan ketahanan pangan berkurang. Bagaimana tidak, sebelum pandemi saja, pada skala nasional kondisi ketahanan pangan rakyat berada pada tingkat kronis. The Global Hunger Index tahun 2019 menyebutkan Indonesia berada pada tingkat kelaparan yang serius.

Diperkirakan 8.3% dari populasi tidak mendapatkan nutrisi yang cukup dan 32.7% anak-anak di bawah usia 5 tahun mengalami gagal tumbuh (stunting) karena kekurangan gizi kronis. Utamanya disebabkan ketahanan pangan yang tidak memadai.

Belum lagi, angka kemiskinan pedesaan yang mayoritas petani dan tingkat kerentanan rawan pangan yang masih tinggi, termasuk harga bahan pangan yang membuat rakyat menjerit, adalah sebagian bukti kegagalan sistem itu. Apalagi, rakyat mengalami penderitaan baru yang terjadi selama wabah.

Ironisnya, di tengah bertambahnya penderitaan rakyat , tak jua membuat pemerintah berpikir untuk mentransformasi konsep tata kelola negara. Seandainya saja pemerintah mau melirik kepada konsep Islam dalam hal mengelola negara, mungkin krisis multidimensi ini bisa segera berakhir.

Islam memiliki konsep jitu mengatasi krisis pangan khususnya saat terjadi wabah yang bisa diadopsi oleh negeri ini, sehingga menjadi rujukan bagi Jabar sebagai wilayah yang merupakan bagian dari negara Indonesia. Namun tentu, hal ini harus sejalan dengan konsep penanggulangan wabah menurut syariat Islam, yakni memutus penularannya melalui kebijakan penguncian total atau lockdown syar’i.

Selama lockdown berjalan, seluruh kebutuhan pokok rakyat termasuk pangan wajib dipenuhi negara, baik rakyat mampu maupun miskin, hingga lockdown berakhir. Kesuksesan penanganan wabah sangat ditopang kemampuan negara menjamin pemenuhan pangan seluruh rakyat yang dikunci.

Kemampuan Sistem Islam dalam menjamin ketahanan pangan selama dan setelah wabah. tak terlepas dari prinsip utama pengelolaan pangan pertanian dalam Islam.
Prinsip pertama, menjadikan negara sebagai penanggung jawab utama dalam mengatur hajat pangan rakyat. Rasulullah Saw. menegaskan fungsi utama pemerintah adalah pelayan dan pelindung rakyat.

“Imam (Khalifah) raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Muslim dan Ahmad)

Korporasi swasta hanya diposisikan sebagai bagian rakyat yang memiliki hak membangun usaha pertanian, tidak boleh mengambil alih kewenangan pemerintah menguasai sektor pangan. Tidak seperti saat ini, di mana lebih dari 90% stok pangan berada dalam kendali korporasi.

Prinsip kedua adalah pengaturan sektor pangan pertanian wajib dijalankan berdasarkan sistem ekonomi Islam semata. Sekalipun ranah pertanian termasuk bagian kepemilikan individu, namun berbeda dengan konsep kebebasan memiliki dalam kapitalisme, di mana korporasi bebas menguasai lahan dengan mengabaikan status kepemilikannya.

Islam juga melarang bentuk perseroan seperti Perseroan Terbatas (PT), sehingga sektor pertanian akan terhindar dari hegemoni korporasi yang menguasai hulu hingga hilir. Pengaturan lahan dengan konsep reforma agraria berparadigma sosialisme akan ditinggalkan, diganti dengan hukum pertanahan yang syar’i.

Dengan memaksimalkan produksi lahan pertanian, baik lahan milik petani maupun negara dan menghentikan alih fungsi lahan. Negara di dalam sistem Islam akan men-support para petani dengan berbagai subsidi yang dibutuhkan, berupa modal, saprotan, atau teknologi pendukung. Berbagai subsidi dalam negara Islam berbasis kebutuhan petani, diberikan secara murah bahkan gratis, tanpa riba/bunga.

Itulah paparan singkat bagaimana negara di dalam sistem Islam mengatasi krisis pangan baik saat terjadi wabah maupun setelahnya, serta bagaimana negara membangun ketahanan pangan berdasarkan konsep Islam. Semoga negeri tercinta kita ini bisa segera menjadikan Islam sebagai landasan dalam tatanan kenegaraan.

Wallahua’lam bishowab.

One thought on “Pusat Komando Ketahanan Pangan Jabar, Antara Inovasi dan Solusi Hakiki

  1. Islam bukan hanya dimaknai sebagai ibadah mahdhah saja, namun Islam begitu luar biasa, mengatur mulai dari hal terkecil hingga bangun negara…
    Pahami Islam sesuai metode Rasulullah Saw,,niscaya keberkahan akan Allah SWT limpahkan

Komentar ditutup.