DIBALIK GENCARNYA ARUS MODERASI

oleh -30 views

Oleh : Lilis Suryani (Pegiat Literasi Kab. Majalengka, dan seorang Guru Paud di Lembaga Paud Al-Jabar)

Moderasi agama terus diaruskan oleh kementerian agama kepada berbagai kalangan. Hal ini dilakukan karena Kemenag mengklaim ada indikasi bahwa masyarakat saat ini banyak terpapar paham radikalisme, intoleransi, hingga ekstrimisme. Untuk itu, Kemenag ingin merangkul berbagai kalangan khususnya para penyuluh agama agar satu suara berkaitan dengan moderasi agama.

Sehubungan dengan itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sukabumi, H. Ali Mashuri pada saat menghadiri acara Penyuluh Agama Islam di KUA Kecamatan Gunungpuyuh – Kota Sukabumi, Selasa (23/03). Beliau menyatakan bahwa Penyuluh Agama Islam merupakan salah satu agen utama Kementerian Agama dalam menyampaikan informasi dan tugas fungsi Kementerian Agama kepada masyarakat. Penyuluh Agama diibaratkan lampu yang memberikan penerangan kepada masyarakat dan juga sebagai fasilitator. 

Senada dengan Kemenag berkaitan dengan moderasi agama, Rektor UIN Sunan Gunung Djati (SGD), Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si menyatakan bahwa
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) jangan sampai tertinggal dengan perguruan tinggi lain dalam kerja sama dengan kampus luar negeri. Hal itu sebagai upaya peningkatan mutu PTKIN sekaligus promosi Islam moderat di Indonesia.

Adanya pengarusan moderasi agama terutama kepada umat Islam ditenggarai bisa menjauhkan umat dari konsep Islam yang menyeluruh. Karena dalam konsep moderasi yang mengusung pemahaman Islam moderat, Umat Islam harus memiliki karakter at-tawassuth, yang diartikan bersikap sedang dalam semua urusan, tidak berlebihan dalam beragama dan tidak pula kurang. Juga bersikap adil, dimana adil artinya berada di tengah, antara lebih dan kurang.

Bila dilihat sekilas mungkin konsep pemahaman itu tidak bermasalah. Dan memang itulah opini yang hendak dibangun kepada masyarakat. Harapannya dengan istilah yang lebih halus, paham ini benar – benar bisa di terima oleh kaum muslim. Padahal, pemahaman Islam moderat akan membuat kabur pandangan terhadap ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Sungguh dalam Islam jelas menerangkan bahwa ketika melaksanakan hukum-hukum Islam haruslah menyeluruh disertai ketaatan yang totalitas, tidak bisa setengah – setengah. Adapun, berkaitan dengan makna adil di dalam Islam adalah menempatkan segala sesuatu berdasarkan timbangan syariat, kebalikan dari dzalim. Bukan berarti semua harus ditakar dengan timbangan tidak kurang dan tidak lebih. Karena di dalam Islam yang haram jelas keharamannya, dan yang halal jelas kehalalannya tidak lantas abu-abu.

Menyoal Istilah tawassuth dan tasâmuh yang ada dalam pemahaman Islam moderat, memang istilah Arab. Namun, konten yang mereka maksudkan sebenarnya adalah ide Barat, bukan ide Islam. Yang mereka maksud tawassuth adalah moderasi ajaran Islam, yaitu menundukkan Islam di bawah ide Barat atau kebijakan politik global Barat. Tampak jelas bahwa gagasan Islam moderat ini mengabaikan sebagian dari ajaran Islam yang bersifat qath’i, baik dari sisi redaksi (dalâlah) maupun sumbernya (tsubût), seperti superioritas Islam atas agama dan ideologi lain (QS Ali Imran [3]: 85); kewajiban berhukum dengan hukum syariat (QS al-Maidah [5]: 48); keharaman wanita muslimah menikah dengan orang kafir (QS al-Mumtahanah [60]: 10); dan kewajiban negara memerangi negara-negara kufur hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah (QS at-Taubah [9]: 29); dan sebagainya.

Begitupun, yang mereka maksudkan tasâmuh adalah toleransi terhadap agama lain dengan mengikuti standar nilai (values) Barat, seperti relativisme dan pluralisme, sehingga semua agama akhirnya dianggap benar.

Tujuannya tidak lain adalah meragu-ragukan dan menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam, agar nilai-nilai dan praktik Islam, khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan hukum Islam lainnya, dapat dieliminasi dari kaum muslim dan di ganti dengan pemikiran barat. Semua ini tidak lepas dari diktean barat melalui berbagai perjanjian luar negeri, salah satunya melalui program deradikalisasi ala mereka. Karena Barat terutama AS tentu tidak ingin negeri yang kaya raya ini lepas dari cengkramannya, karena itu paham sekulerisme harus terus dijaga sala satunya melalui moderasi agama. 

Barat tahu betul ketika umat Islam mengetahui inti ajaran agamanya dengan benar maka umat Islam akan kembali memimpin dunia seperti di masa lalu. Kegemilangan umat Islam dengan peradaban yang tinggi menjadi kenyataan pahit bagi barat saat itu. Untuk itu, menurut mereka umat Islam harus terus dijauhkan dari ajaran agamanya. Semata untuk melanggengkan hegemoni penjajahan mereka atas negeri ini.

Lain halnya jika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam tatanan negara, maka Islam akan menjadi perisai bagi seluruh warga negaranya dari paham-paham yang bertentangan dengannya. Bahkan, Institusi Islam ini mampu menjaga akidah warga negaranya dengan penjagaan yang luar biasa.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang  akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Khaldun menjelaskan hadis di atas, “Ketika kami jelaskan hakikat jabatan ini, dan bahwa jabatan ini merupakan substitusi (pengganti) dari pemilik syariah dalam menjaga agama dan mengurus dunia dengan agama, maka disebut Khilafah dan Imamah. Orang yang menjalankannya disebut Khalifah dan Imam.”

Negara dakam konsep Islam memiliki kewajiban untuk menjaga agama, akal, kehormatan, harta, jiwa, dan keamanan warga negaranya.
Dalam menjaga agama, bagi seorang yang murtad dari Islam, Khalifah akan memberikan sanksi tegas berupa hukuman mati. Sebab, saat seseorang hendak masuk Islam, ia telah mengetahui apabila ia masuk kemudian murtad, ia akan dihukum mati. Hal ini merupakan konsekuensi dari pilihannya memeluk Islam.
Allah SWT telah berfirman, “Tidak ada paksaan dalam beragama. Sungguh telah jelas antara petunjuk dan kesesatan.” (QS Al-Baqarah: 256).

Ada kebebasan beragama bagi ahlu dzimmah (orang kafir yang menjadi warga negara Khilafah), tetapi dakwah kepada Islam tetap dilakukan. Dakwah kepada Islam adalah satu perkara, dan memaksakannya adalah perkara lain.
Firman Allah SWT, “Serulah manusia kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An-Nahl: 125)

Negara akan membina, menjaga, melindungi akidah umat dari segala bentuk penyimpangan, pendangkalan, kekaburan, serta penodaan. Negara juga akan terus-menerus membina keislaman seluruh rakyat, mengajarkan dan mendidik masyarakat tentang akidah dan ajaran Islam, baik melalui pendidikan formal maupun informal.

Maka, dengan penjagaan negara berkonsep Islam masyarakat akan benar-benar mengetahui kemurnian ajaran Islam dan menerapkannya dalam kehidupan. Dan inilah yang akan menjadi penyebab rahmat Allah turun bagi seluruh alam. Keberkahannya tidak akan dirasakan oleh umat muslim saja melainkan kepada seluruh manusia sebagaimana yang telah tercatat dalam sejarah kegemilangan Islam di masa lampau.

Wallahua’lam