Dinas Kesehatan Majalengka Cepat Tanggap Antisipasi dan Penanganan Penyakit

oleh -1 views
Agus Susanto, S.Sos.M.Si

Angka penderita TB Paru di Kabupaten Majalengka masih terbilang tinggi mencapai 1.961 kasus, dari target capaian penemuan kasus sebanyak 3.035 kasus. Dari jumlah kasus positif sebesar 29 persen diantaranya diidap anak-anak.

Majalengka Korandesa.id. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka Agus Susanto disertai Kepala Bidang P2P Mumu Hermawan, Selasa (25/10/2022), saat ditemui dikantornya menyampaikan penyakit Tuberculosis kini menjadi salah satu prioritas penanganan Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka bersama penyakit menular lainnya seperti HIV/AIDS, stunting, kusta, sama halnya dengan penyakit Covid-19 yang penularannya dari orang ke orang.

Dinas kesehatan kini terus melakukan pelacakan terhadap terduga TBC, dari jumlah terduga sebanyak 14.665 capaian menginjak triwulan empat telah tercapai sebanyak 11.858 orang atau 80,9 persenan.

“Pelacakan dan pemeriksaan dilakukan terhadap orang yang melakukan kontal langsung dengan penderita TBC serta orang-orang terdekat baik keluarga ataupun orang yang bertetangga di sekitar rumahnya,” ungkap Agus.

Menurut Agus, yang dinyatakan positif sebanyak 1.961 orang yang kesemuanya tengah melakukan pengobatan di Puskesmas atau secara mandiri.

Penyakit ini dianggap berbahaya karena ditimbulkan dari orang ke orang akibat bakteri Mycpbacterium Tuberculosis yang penularannya dianggap cukup tinggi dan rentan, terutama dari orang dewasa ke anak-anak.

“Kalau penderita sudah melakukan pengobatan tingkat penularan rendah bahkan tidak akan terjadi penularan,” ungkap Agus.

Menurutnya, penyakit TBC ini pada umumnya diderita oleh masyarakat menengah ke bawah. Munculnya penyakit lebih disebabkan oleh daya tahan tubuh yang lemah karena asupan gizi yang kurang, lingkungan rumah yang kurang sehat terutama pentilasi udara yang kurang, sanitasi juga kurang serta perokok.

Tak heran jika kasus TBC ini banyak ditemukan di wilayah perkotaan seperti Kecamatan Majalengka, Sumberjaya, Kadipaten, Kasokande, Dawuan karena kondisi udara kotor. Sedangkan di wilayah berudara yang tingkat polusinya baik, penderita TB paru relatif rendah.

“Kami mengedukasi masyarakat agar pentilasi udara di rumah bagus, tidak lembab. Ketika penelitian kami juga menemukan banyak rumah yang kondisinya tidak layak dan memicu munculnya penyakit TBC serta beragam penyakit ,lainnya,” ungkap Agus.

Dari hasil penelitian dan investigasi tersebut, pihaknya merekomendasikan sebanyak 13 rumah yang dinyatakan tidak sehat dan tidak layak huni kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) untuk dilakukan renovasi rumah melalui bedah rumah. Namun dari 13 yang diajukan hanya tiga rumah yang bisa diperbaiki, selebihnya dianggap tidak memenuhi syarat berdasarkan kajian PUTR.

Bagi yang rumahnya tidak bisa di perbaiki, Dinas Kesehatan hanya bisa mengedukasi masyarakat untuk membersihkan rumahnya serta membuat lubang angin yang memadai untuk pernafasan sesuai dengan jumlah penghuni rumah.

Selain itu disarankan untuk melakukan pengobatan secara rutin ke Puskesmas terdekat atau mandiri, karena pengobatan di Puskesmas dilakukan secara gratis.
‘Klaau obat gratis karena ada dari Global Fun,” jadi masyarakat tidak boleh kwatir mengenai biaya pengobatan ungkapnya. Red