Geliat Kehidupan Saat Pandemi Mulai Melandai

oleh -37 views

Majalengka, korandesa.id – Secercah harapan untuk kembali hidup normal di kehidupan baru kembali membuncah, setelah hampir 2 tahun kita terbelenggu rasa takut akan wabah Covid 19 tersebut. Setahun yang lalu, tepatnya Maret 2020, wabah virus corona yang berasal dari negeri tirai bambu ini masuk ke negeri kita. saat itu, kita semua merasa takut, panik dan frustasi dalam menjalani kehidupan karena harus mengubah kebiasan ke dalam kehidupan new normal.

Dan sekarang ini setelah berbagai upaya pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid 19 dilakukan, pandemi mulai melandai walaupun belum sepenuhnya hilang dari bumi nusantara ini.

Berbagai aktivitas masyarakat nampak mulai bergairah kembali walaupun belum sepenuhnya normal. Roda kehidupan yang selama satu tahun ini tersendat sendat dan hampir lumpuh kembali berputar. Masyarakat kecil yang sangat merasakan dampak dari pandemi ini, kini bisa sedikit bernafas lega. Sekarang mereka bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala walaupun harus tetap menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Pelaku seni, para pedagang, tukang sol sepatu, dan masyarakat kecil lainnya sudah bisa tersenyum dalam menyambut kehidupannya. Ekonomi mereka mulai terdongkrak kembali di saat pandemi ini mulai melandai.

Job job yang kemarin hilang selama kurun waktu satu tahun lebih, kini kembali mereka (pelaku seni) terima walaupun baru satu dua job yang masuk. Hal ini diungkapkan salah satu seniman asal majalengka yang sekaligus pemilik sanggar Sunda Rancage Aceng Hidayat (40)

Aceng sangat merasakan betul saat pandemi ini mulai masuk Indonesia. Ia terpaksa harus kehilangan job panggungannya saat pemerintah memberlakukan PSBB yang sekarang berganti nama PPKM. Saat itu, waktu pertama kali diberlakukannya PSBB ia terpaksa harus kehilang 25 job panggungannya, bahkan Aceng harus mengembalikan uang muka (DP) yang telah diterimanya.

Menurutnya, sebelum wabah pandemi Covid 19 melanda, di bulan bulan tertentu saat banyak masyarakat menggelar hajatan perharinya ia bisa menerima 2 job panggungan. ” Sebelum pandemi, saat orang rame menggelar hajatan di bulan bulan tertentu penghasilan kami mencapai 15 juta rupiah perbulan, namun setelah adanya pandemi terlebih saat pemerintah memberlakukan PSBB dan PPKM darurat, penghasilan kami turun drastis, selama satu tahun ini tidak mendapat job manggung karena pemerintah melarang masyarakat untuk menggelar hajatan yang bisa menimbulkan kerumunan”, jelas suami dari N Ayu Asmiati ini.

Aceng mengaku, sekarang ini di saat pandemi mulai mereda dan pemerintah telah menetapkan bahwa Kabupaten Majalengka masuk PPKM level 2 dirinya bisa bernafas lega. Pundi pundi ekonomi keluarganya sedikit demi sedikit mulai terisi setelah pemerintah melonggarkan aturan PPKM di level 2. ” Alhamdulillah sekarang kami bisa bernafas lega, kami bisa kembali manggung setelah masyarakat di ijinkan menggelar hajatan walaupun dengan ijin ketat, setidaknya kami bisa mendapatkan job panggung sehingga dapur bisa ngebul”, ujar Aceng.

Setelah satu tahun lebih tanpa adanya job , kini Aceng telah kembali mengisi kesibukannya melayani panggung hiburan atas permintaan masyarakat yang menggelar hajatan. Kini ia telah bisa kembali menghidupi keluarga dan anggota sanggar Sunda rancage walaupun belum sepenuhnya normal seperti semula.

Aceng Hidayat berharap kedepan pandemi ini segera berakhir setelah pemerintah betul betul menuntaskan program vaksinasi bagi masyarakat, hingga kehidupan kembali berjalqn normal. ” Marilah kita sukseskan program pemerintah dalam mensukseskan vaksinasi, jangan takut untuk di vaksin agar pandemi ini segera beeakhir”, ajak Aceng.

Hal senada juga diungkapkan Agus (35) salah satu tukang sol sepatu yang mangkal di perempatan lampu merah Kadipaten. Menurutnya, pada saat wabah covid 19 menerpa daerahnya. Pendapatan dia turun drastis, sampai tak sanggup lagi untuk menafkahi keluarganya.

” Saat itu, setiap harinya tidak ada lagi yang datang ke sini untuk minta memperbaiki atau sekedar sol sepatu dan sandal. Hal ini kurang lebih satu tahun berjalan hingga ekonomi keluarga saya mandeg dan tak sanggup lagi menafkahi anak isti saya”, kata Agus menceritakan nasibnya saat mulai terjadinya pabdemi.

“Waktu itu, ketika pemerintah menetapkan pemberlakuan sosial bersekala besar atau PSBB pertama kalinya, pendapatan saya hanya berkisar 15 ribu sampai 20 ribu rupiah per harinya, bahakan kerap kali tak mendapatkan sepeserpun dari hasil kerja saya waktu itu”, jelas Agus.

Walaupun demikian Agus bersama teman teman seprofesinya tetap bersabar dalam menjalani kehidupan setiap hari selama pandemi ini berlangsung. Dengan penuh kesabaran dia terus menggeluti profesinya sebagai tukang sol walaupun saat itu begitu tertatih tati untuk mendapatkan sesuap nasi bagi keluarganya.

Belakangan ini, setelah pabdemi melandai, secercah harapan untuk menyambung hidup dari profesinya sebagai penjual jasa tukang sol tersirat dari raut muka Agus dan kawan kawan. Kehidupan dia kembali bergeliat setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan menurunkan PPKM Darurat hingga level 2 di daerahnya.

Diakui Agus, saat ini pendapatannya mulai meningkat seiring dilonggarkannya PPKM level 2. “Alhamdulillah sekarang sudah mulai banyak lagi yang minta jasa saya untuk memperbaiki atau sekedar ngesol sepatu dan sandal. Perharinya sekarang saya bisa mendapatkan uang sebesar 50 sampai 75 ribu rupiah. Dulu beberapa bulan kebelakang untuk mendapatkan 50 ribu saja sangat susah”, tukas Agus.

Sama seperti halnya Aceng Hidayat, Agus juga sangat berharap pemerintah serius dalam menangani pandemi ini, sehingga wabah covid 19 segera angkat kaki dari daerahnya dan kehidupan yang dialaminya kembali normal.

“Semoga pandemi ini segera berakhir, sehingga kami bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi”, harap Agus Penuh Do’a.

Selain Aceng dan Agus, kehidupan serupa juga di alami Yeyen(39) pedagang sayur kelililng asal Kertajati Majalengka. Setelah wabah Covid 19 di daerahnya mereda, Neni nampak semangat dalam menjajakan dagangannya.

Sebelumnya, saat virus corona tersebut masih tinggi ia sempat patah arang dan tidak mau lagi berjualan karena barang dagangannya selalu tersisa dan menjadi busuk. ” Waktu itu saya sempat tidak mau lagi berjualan, karena barang saya selalu tersisa. Sepertinya orang orang enggan untuk berbelanja sayuran ke saya”, kata yeyen.

“Tapi sekarang ini, seiring mulai turunnya angka terpapar Covid 19, saya mulai semangat lagi untuk berjualan keliling, karena kelihatan daya beli masyarakat kembali meningkat. Ibu-ibu tiap harinya selalu menunggu saya untuk berbelanja sayuran buat hidangan teman nasi keluarganya. Sekarang seriap harinya dagangan saya selalu habis terjual, jadi saya semangat lagi untuk berjualan”, pungkas Yeyen. (***)

Laporan : Asep Trisno

No More Posts Available.

No more pages to load.