Hilangnya Tradisi Lebaran Akibat Pandemi

oleh -15 views

Majalengka, korandesa.id – Hari Raya Idul Fitri adalah hari yang sangat di tunggu tunggu  umat muslim di seluruh dunia, karena hari itu merupakan hari kemenangan yang penuh berkah bagi seluruh umat islam di berbagai belahan dunia. Dan di Indonesia sendiri, dalam memaknai hari raya Idul fitri ini diisi dengan tradisi sungkeman, dimana sudah menjadi kebiasaan masyarakat negeri khatulistiwa untuk saling berkunjung antar keluarga, bersilaturahmi antar handaitaulan, anak berkunjung terhadap kedua orang tua, adik terhadap kakak, atau saudara dengan para kerabatnya. Hingga tak aneh jika datang hari raya Idul Fitri belasan ribu warga di negeri kita ini melakukan perjalanan mudik lebaran hanya sekedar untuk bersilaturahmi.

Namun situasi pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih bercokol di negeri ini, tentunya mengubah kebiasaan-kebiasaan lama yang selama ini dilakukan oleh umat Islam saat merayakan Idul Fitri.

Masyarakat tak bisa lagi bersilaturahmi secara tatap muka ataupun kendurian Terlebih pemerintah telah mengeluarkan himbauan kepada masyarakat untuk membatasi pergerakan dan diminta untuk tidak melakukan mudik lebaran, bahkan untuk antisipasi membludaknya pemudik, pemerintah melakukan penyekatan di ratusan titik jalan raya di seluruh Indonesia. Hal itu dilakukan demi menekan laju penyebaran virus corona penyebab Covid 19 dan tidak terjadi lonjakan kasus seperti di negara India.

Ada kekhawatiran, jika Lebaran berjalan seperti tradisi selama ini, mudik, shalat Idul Fitri yang ramai oleh jemaah, dan saling berkunjung atau berkumpul akan berpotensi meningkatkan penyebaran virus corona pasca lebaran.

Dengan adanya himbauan pemerintah tersebut, telah memupus harapan banyak warga untuk merayakan hari kemenangan bersama keluarga. Seperti halnya yang dirasakan Tono Praptono (46) salah seorang sopir angkot jurusan Kadipaten – Jatitujuh, Majalengka.

Bagi Tono, merayakan Lebaran dengan meriah menjadi hal terakhir di pikirannya, sejak keuangan keluarganya terpukul oleh wabah virus corona. Sekarang, yang dipikirkan dia hanyalah kesehatan istri dan dua orang anaknya.

“Saya sudah tidak memikirkan Lebaran. Yang saya pikirkan itu kehidupan keluarga sama kesehatan. Itu saja,” ujarnya.

Bekerja sebagai sopir angkot rute Kadipaten – Jatitujuh, sekarang ini pemasukannya sangat minim sekali, seharian, hanya dapat Rp.20.000,- saja, ” itu mana cukup untuk membiyayai hidup keluarga kecil kami, apalagi untuk lebaran, ya mana ada !! “, kata Tono.

Sejak pandemi covid 19 melanda, penumpang nyaris tidak ada, dalam satu tarikan dari Kadipaten menuju Jatitujuh atau sebaliknya paling ada satu dua orang penumpang saja yang menaiki mobilnya.

Tono menjelaskan, sebelum wabah corona, pendapatan bersihnya dari mengemudi angkot bisa mencapai Rp 100.000 per hari. Kini ia hanya membawa pulang Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per hari, dan terkadang harus nombok. ” Uang sebanyak itu tidak akqn cukup untuk belanja kebutuhan makan sehari-hari, bahkan sama sekali nggak ke bawa kerumah, karena habis lagi di jalan untuk beli es sama rokok”, jelas Tono.

Di hari Lebaran, identik dengan baju baru mungkin tidak akan ada. Begitu pula dengan liburan bersama keluarga sesuatu yang tidak mungkin lagi dilakukan, selain keuangan yang memang minim ditambah pula adanya himbauan pemerintah untuk tidak bepergian, ” masih untung kami disini bisa berkumpul dengan keluarga, walaupun dengan keadaan serba terbatas karena himpitan ekonomi”, ucapnya pula.

Tono mengaku tahun ini untuk menutupi operasional angkotnya saja sangat sulit,  sampai saat ini ke empat ban mobilnya yang sudah gundul dan sangat mengkhawatirkan belum bisa diganti, dengan terpaksa ia harus terus memacu angkotnya walau dengan kondisi yang memprihatinkan. ” Lantas bagai mana lagi, jangankan untuk beli ban mobil, untuk kehidupan sehari hari saja sulit “, keluhnya.

Ia berharap wabah covid 19 ini segera hengkang, sehingga kehidupan ekonominya bisa kembali berjalan normal dan bisa merayakan lebaran seperti waktu waktu sebelumnya, ia juga sangat berharap kepada pemerintah bisa memberikan solusi kepada masyarakat dibawah agar bisa keluar dari himpitan ekonomi akibat Covid 19.

Apa yang dirasakan Tono dirasakan pula oleh Yeyet Rohaeti, 50 tahun, salah satu karyawan sebuah Perusahaan swasta di Bandung asal Kabupaten Majalengka, tahun ini, karena ada larangan mudik dari pemerintah, ia terpaksa harus lebaran di perantauan, ia kesulitan menyambut hari kemenangan dengan gembira. Jauh dari keluarga di kampung halaman, ia menghabiskan waktu istimewanya tersebut hanya dengan suami dan satu keponakannya saja di rumahnya di Cijerah, Bandung. “tahun ini kami tidak bisa pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga, selain ada larangan dari pemerintah, kami juga khawatir membawa virus dari sini, dan menularkannya terhadap keluarga di kampung. Jadi terpaksa, kami harus menunda keinginan untuk bersilaturahmi dengan keluarga yang ada di Majalengka, mudah mudahan lebaran nanti kami bisa bersilaturahmi kembali”, kata Yeyet.

Biasanya, di tahun tahun sebelumnya, dua hari menjelang Idul Fitri, ia sudah ada di rumah orang tuanya di Kertajati, Majalengka. Dalam menyambut hari raya, keluarganya punya tradisi saat hari lebaran berkumpul di rumah orang tua untuk sungkeman dan pergi ke makam leluhur untuk memanjatkan doa bagi leluhurnya.

Saat Lebaran tiba, keluarga besar Yeyet, setelah melakukan sungkeman biasanya langsung pergi bersama sama ke pemakaman leluhur, setelah selesai memanjatkan doa, mereka langsung makan bersama. Makanan favorit mereka antara lain Gulai kepala Kambing dan ketupat, ditambah sambal dan rendang.

Namun hal itu, di Lebaran tahun ini tak bisa dilakukan, ia merasa sedih dan marah sekaligus pasrah dengan situasi sekarang ini, satu satunya yang bisa dilakukannya hanya berkomunikasi lewat Video call jaringan whatsApp

“Mau marah, saya enggak bisa marah ke siapa. Mau menyalahkan, saya enggak bisa menyalahkan siapa-siapa, akhirnya saya pasrah pada keadaan, semoga badai wabah Covid cepat berlalu, sehingga kami bisa kembali hidup normal”, katanya penuh harap.

Hal serupa juga dirasakan Yudi (34), buruh bangunan asal Tasikmalaya, karena terhalang pandemi, Lebaran tahun ini, ia tidak bisa berkunjung kepada kedua orang tua dan saudara saudaranya yang ada di Kabupaten Majalengka.

Jauh jauh hari sebelumnya Yudi telah mengabarkan kepada keluarganya yang ada di Majalengka, bahwa dia tidak akan visa berkunjung ke majalengka, ia beralasan, selain tahu dari telvisi pada tanggal 6 – 16 Mei ada himbauan untuk tidak mudik dan dilakukan penyekatan, secara finasial juga terpuruk, karena semenjak adanya pandemi jarang sekali ia bekerja, ” sepertinya pembangunan infrastruktur tersendat, sehingga selama 6 bulan lebih saya tidak lagi bekerja”, kata Yudi.

Sudah menjadi kebiasaan bagi pria asal Majalengka itu di saat Lebaran, selalu berkunjung kepada kedua orangtuanya, sekeder untuk sungkeman.

Padahal kesempatan untuk berkumpul bersama keluarganya itu menjadi hal yang paling ia rindukan, serta suasana kampung halamannya yang asri.

Tak bisa mudik, tahun ini Yudi memilih untuk  berdiam diri dirumah beesama istri dan kedua anaknya, ia berharap virus corona bisa segera hilang dari Indonesia dan kehidupan bisa kembali normal.

“Masyarakat Indonesia sehat, bisa merayakan Idul Fitri bareng-bareng. Dan pemerintah setempat maupun pusat bisa mengalokasikan dana bantuan pada yang berhak,” pungkasnya.(***)