Ingin Bahagia Dunia dan Akhirat Akhirat, Begini Caranya!

oleh -25 views
Ditulis oleh : Lilis Suryani ( Pegiat Literasi )
Ditulis oleh : Lilis Suryani ( Pegiat Literasi )

Ditulis oleh : Lilis Suryani ( Pegiat Literasi )
Ditulis oleh : Lilis Suryani ( Pegiat Literasi )
Ditulis oleh : Lilis Suryani ( Pegiat Literasi )

Setiap orang tentu mendambakan kehidupan yang bahagia. Karena itu, tidak sedikit orang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.

Terdapat indikator pengukur tingkat kebahagiaan seseorang, adapun saat ini indeks kebahagiaan diukur melalui Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK), ada tiga dimensi yang diukur yaitu kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup.

Menariknya, salah satu media online memberitakan bahwa masyarakat Jawa Barat termasuk kedalam masyarakat yang paling tidak bahagia ke 5 di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Menilik, makna kebahagiaan saat ini di tengah dominasi sistem kapitalisme yang sangat materialistis tentu selalu mengidentikan dengan pencapaian duniawi saja. Akhirnya muncul paradigma keliru Dalam memaknai kebahagiaan.

Misalnya, bahagia itu jika mempunyai banyak uang, gelar, kedudukan yang tinggi, dan hal lain yang berstandar pada materi. Sekilas hal ini mungkin terkesan biasa, namun di balik manisnya propaganda para kapitalis ternyata ada dampak bagi para perempuan, anak-anak, keluarga dan masyarakat.

Perempuan akan semakin banyak yang meninggalkan keluarganya untuk bekerja, baik dalam keadaan terpaksa maupun sukarela. Semakin banyak anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua, sehingga akan semakin marak pula kenakalan anak-anak atau remaja dari mulai berbohong hingga terjerumus dalam kriminalitas serta pergaulan bebas. Angka perceraian pun semakin meningkat karena timbulnya konflik, salah satunya penghasilan istri yang lebih besar dibandingkan suaminya.

Dan faktanya, itulah yang marak terjadi saat ini. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan hakiki yang terjadi justru terlena dalam kebahagiaan yang semu.

Berkaitan dengan kebahagiaan, dalam ajaran Islam pun memerintahkan untuk senatiasa meminta kebahagiaan. Yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat, misalnya dalam Firman Allah :

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka (QS al-Baqarah [2]: 201).

Kendati demikian, Allah SWT tak hanya memerintahkan kita untuk berdoa dan berharap datangnya kebaikan dunia dan akhirat. Allah pun telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berikhtiar menciptakan lingkungan kehidupan yang baik dan nyaman dengan kemampuan dan potensi akalnya untuk mengadakan dan mengembangkan berbagai fasilitas hidup.

Semua ini termasuk dalam wilayah kemampuan manusia untuk mengupayakannya. Adapun doa dan pinta yang kita haturkan kepada Allah adalah upaya kita mendekat kepada-Nya. Agar Allah semakin mencintai kita dan memudahkan kebaikan itu datang menghampiri kita.

Dalam ranah individu kebahagiaan itu tergambar pada pernyataan Abul Qasim Abu Abdur Rahman yang mengatakan, “Siapa saja yang dianugerahi hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir dan tubuh yang sabar, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta dipelihara dari siksa neraka.”

Dari sini kita diingatkan bahwa , kebahagiaan itu tidak selalu pada perkara materi saja melainkan yang paling penting adalah bisa bersyukur serta diajukan dari api neraka.

Sedangkan kaitannya dengan kebabahagiaan yang juga mesti terwujud dalam ranah masyarakat, bisa kita dapati dalam tata aturan Islam.

Bila kita mempelajari Syariah Islam, tentu akan kita ketahui bahwa Syariah Islam didominasi oleh hukum-hukum yang mengatur urusan kemaslahatan umat manusia (politik), yakni bagaimana sistem pemerintahan menyelenggarakan berbagai layanan untuk tegaknya syariah Allah, baik dalam perkara keimanan dan juga amalan.

Tentang keimanan, negara diwajibkan untuk menjaga akidah umat dari pendangkalan dan penyesatan akidah. Begitupun kaitannya dengan kekeliruan dalam memaknai kebahagiaan hidup. Sebaliknya akidah Islam yang kokoh menghujam akan menghasilkan pribadi yang takwa dan komitmen kuat. Dan mengetahui bahwa kebahagiaan hakiki adalah ketika meraih Ridho Allah SWT.

Penerapan Islam di berbagai bidang akan menghasilkan layanan publik yang baik dan menyejahterakan. Akan memudahkan keluarga dan anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan asasi mereka.

Bahkan bagi warga yang tidak mampu dan tidak berkerabat, negara yang harus mengambil tanggung jawab untuk memenuhi seluruh kebutuhan mereka. Penerapan ekonomi Islam menghasilkan adanya jaminan distribusi kekayaan yang adil, mencegah kecurangan dan keserakahan sekelompok orang, mewujudkan kemandirian dan kedaulatan umat, tidak didikte asing, layanan publik masyarakat yang menyejahterakan.

Sebagaimana yang terjadi pada umat terdahulu ketika Syariah Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan. Dituliskan dalam tinta emas sejarah umat islam pada saat itu negara yang menerapkan syariat Islam menjadi mercusuar peradaban.

Dan hal itu diakui juga oleh Will Durant, seorang sejarahwan Barat. Dalam buku yang dia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, dinyatakan, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Maka, melalui penerapan Syariah Islam yang akan menjadi sumber aturan pengelolaan negara akan menghasilkan kesejahteraan untuk seluruh warga negaranya termasuk kaum perempuan. Dan kebahagiaan hidup yang hakiki pun akan diraih. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.