Maraknya Bunuh Diri Dikalangan Remaja, Apa yang Salah?

oleh -45 views

Oleh : Siti Asiyah Nurjanah, S.Pd

Permasalahan dalam dunia pendidikan saat ini nampaknya makin hari makin bertambah. Khususnya, terkait pendidikan karakter di kalangan pelajar maupun guru. Seperti yang diketahui, kurikulum demi kurikulum terus berganti setiap tahunnya bahkan dua tahun terakhir kurikulum pendidikan hampir dua kali di ganti demi mencari solusi permasalahan dalam pendidikan ini. Alih-alih mendapatkan solusi, malah menambahkan permasalahan baru bahkan sampai mengabaikan esensi dari pendidikan tersebut.

Rusaknya pendidikan saat ini disinyalir turut menyebabkan kalangan muda menjadi rusak. Menyoal maraknya kasus bunuh diri dikalangan pelajar menyebabkan rusaknya pola pikir pelajar dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Tentu, kasus bunuh diri di kalangan pelajar ini sangatlah menyayat hati. Seperti kasus yang sedang viral ini, ada seorang pelajar asal semarang yang bernazar bunuh diri gegara tidak lulus PTN yang diimpikannya (www.hops.id / Rabu, 13 Juli 2022).

Tidak hanya itu, kasus lainnya adalah seperti dikutip di laman berita online “ditemukan tewas gantung diri, seorang mahasiswa berinisial BH ini awalnya sering berkeluh kesah terkait kuliahnya selama 7 tahun yang tak kunjung selesai/ lulus” (Kompas.com / 15 juli 2020).

Fakta di atas disinyalir seperti fenomena gunung es, apa yang tidak nampak kepermukaan tentu lebih banyak lagi. Hal ini menjadi bukti nyata, gagalnya pendidikan saat ini dalam menumbuhkan karakter yang kuat pada generasi.

Ditambah dengan adanya pehamanan sekularisme di kalangan masyarakat.
Sekularisme ini lah yang menjadikan budaya barat bebas berkeliaran serta dijadikan budaya hidup ditengah-tengah masyarakat.

Gagalnya sistem pendidikan sekularisme ini pun menciptakan generasi muda yang bermental tahu (lembek) serta menciptakan moralitas yang rusak, dimana remaja hanya memikirkan kesenangan tanpa diiringi kekuatan untuk menghadapi kenyataan hidup. Selain itu pemahaman terkait halal dan haram yang menjadi standar berperilaku pun tidak diindahkan lagi. Akhirnya, berakibat pada dekadensi moral generasi yang diluar batas.

Lain hal dengan sistem islam, sistem islam mempunyai pendidikan yang layak dan berkualitas untuk menciptakan pelajar/ generasi muda yang mustanir (cemerlang).

Tujuan dari sistem pendidikan islam pun jauh berbeda dengan sistem pendidikan sekuler, sistem pendidikan islam mempunyai tujuan untuk membangun atau mencipatakan kepribadian islam yang utuh dimana ketakwaan dan keimanan kepada Allah menjadi hal utama dalam pendidikan.
Kemudian fasilitas serta pembiayaan sekolah pun ditanggung sepenuhnya oleh institusi negara bukan diserahkan kepada masyarakat. Maka jelas, sistem pendidikan islam menjamin generasi muda yang tangguh, kuat, dan berkualitas.

Selain itu, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah.

Rasulullah saw. bersabda,

«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

No More Posts Available.

No more pages to load.