Maruarar dan Bursah Sambut Baik Diskusi Kebangsaan ” Pancasila dan Islam

oleh -47 views

Jakarta, korandesa.id – Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945, Jaringan Kaum Muda ( JKM ) yang di pelopori oleh para aktivis Cipayung mengadakan buka puasa bersama sekaligus diskusi kebangsaan dengan tema ” Pancasila dan Islam”.

JKM yang terdiri dari mantan Ketua PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Mulyadi P Tafsir, mantan Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Benni Pramula, mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI) Kartika, mantan Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Chrisman Damanik dan mantan Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) BM Karman. Berindak sebagai Dewan Pembina Bursah Zarnubi.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan positip dari tokoh pemuda yang sekaligus merupakan Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih ( TMP ) Maruarar Sirait.

Bang Bursah dan Bang Ara merupakan teladan bagi kita semua. Mereka berdua bisa bertemu dengan siapapun tanpa membedakan suku, agama maupun latarbelakang apapaun,” ungkap Mulyadi.

Hal senada disampaikan mantan Ketua Umum KAMMI, Kartika. Menurut Kartika, Maruarar memiliki komitmen untuk merajut semua anak-anak muda. Maruarar tak henti-hentinya menjaga keragaman di antara anak muda.

“Persatuan Indonesia selalu menjadi komitmen Bang Ara,” puji Kartika.

Dalam diskusi di depan puluhan peserta, Yudi Latif mengatakan bahwa Pancasila merupakan ideologi besar tentang inklusi sosial.

Pancasila mampu mengatasi ketegangan agama, suku, ekonomi, partai atau bahkan dikotomi antara global-lokal.

Menurut Yudi, ada tiga tata dalam sila-sila Pancasila. Pertama tata-nilai yang terkandung di dalam sila pertema, kedua dan ketiga.

Sementara sila keempat mengandung tata-kelola negara. Sedangka sila kelima mengandung di dalamnya tata-sejahtera.

“Ini menjadi kewajiban semua anak bangsa untuk merealisasikan tiga jenis tata dalam Pancasila ini,” ungkap Yudi.

Bursah menegaskan bahwa Pancasila dan Islam tak perlu dipertentangkan lagi. dan bila semua penganut agama menjalankan agamanya dengan baik, maka Pancasila juga akan baik.

Sebaliknya bila penganut agama berperilaku buruk, Pancasila juga akan menjadi buruk.

“Pancasila itu alat pemersatu. Tanpa Pancasila, kita pecah,” ungkap Bursah. (***)