Motivasi Keluarga, Obat Mujarab Lepas Dari Cengkraman Covid 19

oleh -51 views

Majalengka, korandesa.id – COVID 19 bisa menyerang siapa saja. Tak kenal usia ataupun strata sosial masyarakat. Siapapun akan dihinggapinya, apalagi bagi mereka yang mengabaikan protokol Kesehatan. Virus ganas tersebut sampai detik ini masih menghantui dunia. Termasuk Negara kita tercinta Indonesia.

Bahkan beberapa bulan ini lonjakan kasus positif Covid 19 dipelosok pelosok negeri meningkat tajam. Tak terkecuali di Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Angka terkonfirmasi setiap harinya terus bertambah.

Namun walaupun demikian, kita masih bisa sedikit bernapas lega, pasalnya WHO (World Health Organization) menyebut mayoritas pasien Virus Corona (COVID 19) bisa sembuh. “Kita harus ingat bahwa dengan aksi tegas dan dini, kita bisa memperlambat virus dan mencegah infeksi. Di antara mereka yang terinfeksi, mayoritas akan sembuh,”kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swis. Seperti yang dikutip dalam liputan6.com. Jumat 13 Maret 2020.

Apa yang dikatakan Tedros Adhanom benar adanya, terbukti, banyak pasien terpapar Virus Corona diberbagai negara yang dinyatakan sembuh. Beberapa orang ini merupakan bukti bahwa kita semua bisa sehat dan menjalankan aktivitas seperti sedia kala.

Dukungan Keluarga, Modal Utama Sembuh Dari Ancaman COVID 19

Yani Suryani (36), seorang Ibu rumah tangga asal desa Pakubeureum, Kecamatan Kertajati Kabuparen Majalengka Jawa Barat, berhasil pulih sepenuhnya dari paparan Covid 19, berkat dukungan dan motivasi keluarga, khususnya suami yang tiap hari mendampingi dan memotivasinya agar tetap kuat dalam melawan virus Corona yang bersarang di badannya.

Yani memiliki pengalaman yang relatif enteng dalam melawan wabah tersebut, ia hanya mengalami gejala ringan saat pertama kali virus itu menghinggapi tubuhnya.

Kepada korandesa.id, Yani menceritakan bagaimana dia pertama kali mulai mengalami gejala yang muncul seperti flu pada 20 juni 2021 lalu. Hari itu, seperti biasanya, pagi pagi ia menyiapkan sarapan untuk suami dan anak anaknya. Namun saat menjelang siang, tiba tiba dia merasakan demam menghinggapi tubuhnya. Rasa panas dingin disertai nyeri tubuh memaksa dia untuk meninggalkan segala aktivitas kesehariannya.

Selama dua hari dua malam ia hanya bisa berbaring ditempat tidur sembari merasakan sakit yang dideritanya.
“Saat itu, Kami menganggap bahwa sakit yang di alami saya hanyalah demam biasa karena perubahan cuaca, oleh karena itu, saya hanya terapi dengan minum parasetamol yang diberikan suami,” kata yani.

Yani mengaku, setelah dua hari rutin minum parasetamol, badannya terasa bugar dan vit sehingga ia Kembali bisa beraktivitas seperti biasa. “Di hari ketiga dan ke-empat, selama dua hari itu, saya merasa sehat,sehingga saya beraktivitas seperti sedia kala. Bahkan sempat bercengkrama dengan tetangga, karena kami sedang mempersiapkan rencana pernikahan adik saya, dan pada waktu itu ada beberapa tetangga yang kontak erat dengan saya, termasuk suami dan anak anak,” jelasnya.

Tanpa disadari di hari ke-lima, tepatnya hari Kamis (24/07/2021), Yani kehilangan indra penciumannya. Ia tidak tahu kalua pagi itu, dia sudah tidak lagi bisa mencium bau apapun. Yani menuturkan, Sepulang dari rumah keluarganya di Desa Kertawinangun, Ai Fatimah (21) anak sulungnya menyemprotkan sebuah parfum ke pergelangan tangannya untuk mengetahui bau wangi parfum tersebut. Namun indra penciuman yani tak meresponnya, Kemudian ia mencoba menggosokan kayu putih ke sekujur tubuhnya, tapi tetap saja tidak mencium bau apa apa. Sontak waktu itu, Yani merasa heran dan langsung menelpon suaminya yang kebetulan sedang berada dikantor. Ia mengabarkan apa yang terjadi pada dirinya. “Di ujung telpon, suami saya langsung memerintahkan untuk siap siap melakukan swab Antigen Covid 19, karena dia sudah menduga bahwa saya terpapar Virus tersebut. Selang beberapa jam, sepulang dari tempat kerjanya, saya dan anak-anak dengan menggunakan mobil langsung di bawa ke Puskesmas Kertajati untuk dilakukan Swab Antigen. Namun waktu itu, pihak puskesmas tidak menerima kami dengan alasan petugasnya sedang Isoman karena terpapar juga. Mereka menyarankan Kami untuk melakukan swab Antigen di Klinik terdekat. Atas bantuan teman dekat suami, sekitar pukul 12.00 Wib kami melakukan Swab Antigen di Klinik Ar Ridwan Bhakti Medika Sumberjaya, tempat teman suami bekerja,” tutur Yani

“Dari hasil pemeriksaan Swab Antigen menunjukan, Suami dan kedua anak saya negative, sementara saya sendiri dinyatakan positif Covid 19 berdasarkan surat hasil pemeriksaan laboratorium Klinik Ar Ridwan yang ditanda tangani dr. Adi Ahmad Nurobi,” tambah Yani.

Setelah mengetahui dirinya positif terpapar Covid 19 berdasarkan pemeriksaan swab antigen, Yani tidak bisa menyembunyikan rasa cemas kala menyadari dirinya positif Covid 19. Sempat terpikir, mungkin ini akhir dari hidupnya.

“Sepintas sempat muncul (pikiran itu), tapi akhirnya pikiran tersebut saya buang jauh jauh setelah suami dan anak anak memberikan semangat dan motivasi untuk terus melawan virus tersebut. Mereka terus mengingatkan saya untuk selalu bersikap tenang agar imunitas tidak ngedrop,” kata mantan penyintas Covid 19 asal desa Pakubeureum ini.

Bagi yani, dukungan keluarga sangat membantu dalam menghadapi perang melawan Covid 19 yang menggerogoti tubuhnya. Setengah bulan menjalani isolasi, tak membuatnya gusar karena keluarga selalu ada disampingnya walaupun ada jarak. Dalam keseharaiannya ia terus didampingi suami dan anak sulungnya. “Suami Setiap hari selalu mengingatkan untuk menerapkan protokol Kesehatan, siang maupun malam. Kami tak boleh lepas masker dan harus jaga jarak selama isolasi mandiri. Disamping itu, ia juga rutin memberikan obat antvirus dan Vitamin yang di belinya di apotek,”ujarnya.

“Dengan rutin menkonsumsi obat antivirus dan beberapa jenis Vitamin akhirnya setelah lima hari indra penciuman saya Kembali normal. Alhamdulillah berkat dukungan keluarga semuanya, setelah 14 hari isolasi mandiri dirumah, saya sudah sehat Kembali walaupun tanpa sentuhan tenaga medis dari otoritas setempat,”katanya pula.

Diakui Yani, Selama 14 hari setelah dinyatakan Positif Covid 19 melalui swab antigen di Klinik Ar Ridwan. Tak satupun petugas Kesehatan yang datang untuk melakukan tracing dan testing di lingkungannya, padahal sebelumnya, ia sempat kontak erat dengan beberapa orang tetangganya. Menurutnya, setelah 8 hari menjalankan Isoman dirumah, sempat salah satu petugas yang mengaku dari Puskesmas Kertajati menelpon suaminya, dan menanyakan perkembangan Kesehatan dirinya. “Setelah itu, tidak ada lagi kabar apapun sampai selesai Isoman,” kata yani.

Hal serupa juga dialami Suwarni (46) seorang penjual jamu gendong asal Jawa Tengah yang biasa berjualan di seputar desa Pakubeureum. Satu bulan kebelakang ia mengalami sakit yang gejalanya menyerupai gejala Covid 19. Namun selama sakit, Suwarni tak pernah memeriksakannya ke fasilitas kesehatan baik Klinik, puskesmas ataupun Rumah sakit, Dia hanya mengandalkan perawatan dari suami dan anak anaknya saja.

Menurutnya,selama 2 minggu, dia mengalami nyeri Kaki dan hilang penciuman. Dalam pikirannya saat itu, ia curiga kalau sakit yang dialaminya itu adalah Covid 19. Tapi dia bersikeras tidak mau memeriksakan diri ke fasilitas Kesehatan. Dia hanya melakukan Isolasi mandiri didamping keluarganya. “Selama Isoman, saya hanya melakukan terapi dirumah dengan meminum ramuan jahe dan temulawak yang dibuatkan oleh mas Tukul suami saya. Ramuan tersebut kami jadikan minuman sehari hari keluarga selama setengah bulan, setiap mau minum baik sudah makan ataupun tidak minumnya selalu ramuan tersebut,”paparnya.

Selain itu, menurutnya, anak anak selalu memberikan semangat kepadanya untuk sembuh. “Mamah jangan banyak pikiran, mamah pasti sembuh lagi, “ kata Suwarni menirukan ucapan anak anaknya yang menjadikan motivasi bagi kesembuhannya.

Menurutnya, dukungan keluarga sangat penting dalam hal ini, “ Ketika mereka semua ada untuk kita, maka semangat kita untuk sembuh semakin tinggi, dan terbukti walaupun hanya minum ramuan jahe dan temulawak, sakit saya sembuh. Setelah dua minggu indra penciuman Kembali normal dan rasa sakit disekujur kaki saya pun sembuh total,”ujar Suwarni.

Sama halnya dengan Yani dan Suwarni, seorang mantan penyintas Covid 19, asal Desa Kertawinangun Kecamatan Kertajati, Suparman, sembuh dari cengkraman Covid 19 atas dukungan dan motivasi keluarga tercinta.

Hampir 20 hari lebih Suparman menjalani karantina akibat Covid 19, gejala yang dialaminya cukup lumayan berat. Diawali demam tinggi dan nyeri tenggorokan disertai sesak pernapasan selama tiga hari membuatnya sangat tersiksa.

Menurutnya, semakin hari tubuhnya semakin merasa sakit, ditambah hilangnya rasa dan indra penciuman. Selain itu, pernapasannya juga terpaksa harus dibantu dengan selang oxygen karena rasa sesak yang dialaminya. “Beli oxygen setiap hari dua tabung untuk membantu pernapasan karena rasanya terjadi penyempitan di dada dan paru-paru,” ungkap Suparman yang terpapar bersama istrinya. Beruntung istrinya hanya OTG sehingga bisa membantu merawatnya.

Menjalani kehidupan sehari hari sangat berat dirasakan Suparman saat Covid 19 masih menggerogoti tubuhnya, ia merasa kesulitan Ketika harus mondar mandir ke kamar mandi, tiap langkah harus dipapah istrinya. Jangankan pergi ke kamar mandi, makanpun terasa sulit karena dada benar benar sesak, sedikit bergerak menerima asupan makanan langsung batuk menjadi jadi hingga sulit dihentikan. Saat itu, sempat terpikir olehnya bahwa ini hari terakhir hidupnya.

Walaupun sempat terpikir ke arah situ,dia terus berupaya bangkit atas support Istri dan sepupunya yang kebetulan menjadi tenaga Kesehatan. Mereka setiap waktu terus mendampingi Suparman dengan memberikan saran dan motivasi untuk kesembuhannya.

“Untuk menjaga ketahanan tubuh, Ketika itu saya disarankan membersihkan badan setiap saat, mandi dengan air hangat dan berjemur di bawah terik matahari agar bakteri yang ada hilang,” ungkap Suparman.

Bagi Suparman dukungan keluarga di saat menjalani karantina karena terpapar Covid 19 sangatlah berarti, terlebih bagi dia yang mengalami gejala berat. Kehadiran mereka merupakan obat mujarab keluar dari cengkraman Covid 19.

Dalam kesempatan itu, baik Yani, Suwarni maupun Suparman berpesan kepada semua orang untuk selalu menjaga Kesehatan jangan sampai kejadian yang dialaminya menimpa semua orang. Mereka sepakat, untuk menghindari serangan wabah Covid 19 harus tetap menjaga protokol Kesehatan. (***)

Laporan : Asep Trisno

No More Posts Available.

No more pages to load.