Prihatin !! Satu Keluarga Di Desa Ligung Tinggal Di Gubuk Bata

oleh -93 views

Majalengka, korandesa.id – Prihatin !! Ditengah hiruk pikuknya pembangunan infrastruktur kabupaten Majalengka tahun 2021, ternyata selama masih ada yang luput dari perhatian kita semua, dimana ada satu keluarga tuna wisma yang menjerit tinggal disebuah gubuk terbuat dari plastik.

Muhamad Fuaidin (Suami) bersama Wiwin (Istri) bersama kedua anaknya di depan gubuk mereka
Muhamad Fuaidin (Suami) bersama Wiwin (Istri) bersama kedua anaknya di depan gubuk mereka

Mereka adalah Muhamad Fuaidin (37) dan istrinya Wiwin (40) serta kedua anak laki-lakinya warga Blok Loji, RT 02/01, Desa Ligung, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka yang sudah satu tahun ini tinggal di gubuk bekas penyimpanan bata merah milik majikannya.

Gubuk berukuran 6×4 meter yang terbuat dari terpal berbahan plastik ini berada di bawah rimbunnya kebun bambu tak jauh dari permukiman penduduk. Dinding gubuk sendiri hanya dililit terpal dan plastik bekas penutup batu bata yang sudah pada sobek. Sama seperti halnya dinding, atapnya pun hanya terbuat dari terpal yang di jepit bilah bambu.

Didalam gubuk itu, terdapat tempat tidur yang juga terbuat dari dipan bambu beralaskan kasur lusuh yang tidak cukup digunakan untuk tidur berempat, disamping tempat tidur tersebut terdapat meja yang terbuat dari tumpukan batu bata tempat menyimpan barang kebutuhan sehari hari. Nampak di salah satu tiang penyangga atap gubuk menggantung tas sekolah yang sudah lusuh milik kedua anak laki lakinya yang kini duduk di bangku sekolah kelas 4 dan 6 sekolah dasar.

Sementara dapurnya ada di bagian sisi lain nyaris menyatu dengan tempat tidur, katanya menghindari angin dan hujan. Tidak ada barang berharga apapun di sana, baik televisi atau tempat duduk. Di depan kamar ada sebuah sepeda motor tua milik majikan Fuaidin, namun juga tidak bisa dipergunakan karena rusak.

Fuaidin mengaku hanya itu barang yang mereka miliki. Diakuinya, sudah tiga tahun ia dan keluarga kecilnya menetap di blok Loji desa Ligung, dan belakqngan tinggal di gubuk plastik tersebut sudah hampir satu tahun setelah mereka tak mampu lagi bayar rumah kontrakan.

Kehidupan keluarga Fuaidin terlihat semakin sulit hingga tak mampu membayar biaya kontrakan rumah. Penghasilan dari buruh membuat batu bata tidak akan cukup untuk mengontrak rumah. Untung ada Apid yang mempasilitasi tinggal di gubuk bata miliknya.

“Yang terpenting ada untuk berteduh bersama istri dan anak. Ini juga bersukur tak perlu ngontrak, saya bisa sekaligus bekerja mencetak bata,” kata Muhamad Fuaidin. Meski demikian dia tetap berharap ada keajaiban hidupnya bisa berubah dan anak-anaknya bisa lebih maju darinya

Sementara itu menurut salah satu tokoh masyarakat yang juga mantan kaur umum desa Ligung Jaja Subagja mengatakan, awalnya keluarga Fuaidin pindah-pindah kontrakan namun karena terakhir tidak bisa membayar, hingga dia diberi tempat oleh majikannya di gubuk bekas penyimpanan bata, sekaligus bekerja sebagai pembuat bata miliknya.

“Yang penting sementara sekarang ada untuk tempat berteduh, bagi istri dan anak-anak,” ungkap Jaja yang mengaku penghasilan dari membuat bata merah nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya.

Jaja juga mengatakan bahwa beberapa waktu lalu Fuaidin sudah ditawarin sebidang tanah seluas 5 bata (70 meter persegi) Oleh Sunjaya warga blok loji. ” Sekarang ini Fuaidin dan keluarganya ditawari tanah oleh Pak Sunjaya untuk ditempati. Tanah tersebut bisa dibayar kapan saja setelah mereka memiliki uang untuk membayarnya”, kata Jaja.

Lebih jauh Jaja berharap pihak pemerintah bisa membantu keluarga Fuaidin sebuah rumah layak huni sehingga mereka bisa berteduh dengan aman dan nyaman. Karena menurutnya, kalau bantuan berupa beras ataupun sembako selalu ada saja yang membantu, “seperti halnya hari Rabu (05/01) kemarin Kapolsek Ligung AKP H. Yayat Hidayat. SH. MH., membantu Fuaidin dengan memberikan beberapa karung beras kepada mereka”, tambah Jaja.

Fuaidin nampaknya luput dari bantuan sosial, dia katanya tak mendapatkan PKH, BPNT ataupun bantuan lainnya demikian juga jaminan kesehatan. Keduanya juga belum memiliki KTP Elektronik yang ada hanya KTP sementara atau keterangan domisili.

Sementara itu, Kepala dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Kabupaten Majalengka Hj.Roppedah merasa prihatin mendengar salah satu warganya yang tidak memiliki rumah.“Begitu mendengar informasi, saya langsung ke sana, sudah bertemu RT dan Kepala Desa. Saya prihatin dengan kondisinya dan menyayangkan pemerintah desa lambat melaporkan ke kami. Sekarang sudah kami sarankan untuk mencari tanah yang tidak mengalami sengketa dan surat-surat kependudukannya segera dibuat agar mereka bisa punya KK dan KTP karena syarat untuk peningkatan rumah diantaranya adalah KK dan KTP serta status tanah tidak dalam sengketa,” punkas Ropedah melalui saluran selulernya. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.