Reni Kusumawardhani, Perempuan Tangguh Di Tengah Pandemi Covid 19

oleh -120 views

Majalengka, korandesa.id – Kegigihan seorang wanita dalam sebuah perjuangan tak lagi diragukan. Sudah banyak lahir di negeri ini perempuan perempuan tangguh yang menjadi pahlawan, baik pahlawan untuk bangsa dan Negara ataupun pahlawan untuk diri sendiri dan keluarganya. Kita ingat salah satu pahlawan bangsa pejuang emansipasi wanita “Ibu Kita Kartini”, salah satu pesannya yang masih terngiang di telinga kita adalah “Habis Gelap Terbitlah Terang”, dan kini pesan tersebut mampu di aplikasikan beberapa perempuan zaman now, terlebih sekarang ini di saat pandemi wabah Covid 19 melanda negeri.

Korandesa.id mencoba berbagi kisah salah satu perempuan yang berhasil bangkit dan melakukan upaya kepahlawanan, baik dalam kehidupannya sendiri, maupun menebar manfaat di sekelilingnya. Dia adalah Reni Kusumawardhani (49) salah satu perempuan asal Kabupaten Majalengka Jawa barat yang dua kali terpapar Covid -19 namun tetap bangkit dan bertahan hidup demi keluarganya.

Dia merupakan seorang ibu yang menjadi pahlawan bagi keluarganya . Dalam kesendiriannya, ia bekerja keras demi menghidupi kedua buah hatinya. Ditengah pandemi, dengan gagah berani ia menempuh jarak beratus kilometer dari Majalengka menuju Ibu Kota, menerobos badai covid 19 yang berkecamuk di negeri ini. Demi si buah hati, ia rela harus bolak balik Majalengka – Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaannya disebuah lembaga jasa sosial dibawah bendera Lembaga Darma Ukur (LDU). Sebagai Ketua DPW Jawa Barat di lembaga tersebut Reni harus membuang rasa takutnya akan serangan Covid 19 yang mematikan dengan harapan dia bisa sukses dalam menjalankan usahanya.

Sayang seribu sayang, ditengah perjalanan usahanya tersebut, Reni sempat dua kali terpapar wabah Covid 19, namun walaupun demikian, ia harus tetap kuat dan tegar untuk terus bekerja demi kelangsungan hidup kedua anaknya. Menurutnya, ia akan terus berjuang walaupun bertubi tubi diserang covid 19. Reni bercerita, serangan pertama ia rasakan pada bulan Juni lalu. Tadinya ia belum menyadari kalau dia bersama paman dan kedua anaknya tersebut terserang virus Corona. “Tiba tiba saja sekitar awal Juni 2021 lalu, kami sekeluarga mengalami demam tinggi yang disertai nyeri otot dan tulang sendi, awalnya kami tidak menduga kalau kami sekeluarga terpapar Covid 19, namun keesokan harinya, setelah mendapat kabar dari teman anak sulung saya yang sempat mampir dan menginap di rumah kami sepulang dari Bali, mengatakan, dia bersama keluarganya terpapar virus Covid 19. Saat itu, saya baru sadar kalau kami pun terpapar Covid 19, yang kemungkinan virus tersebut dibawa pulang oleh anak sulung saya bersama kawannya yang mampir baru saja pulang dari Bali”, ujar Reni

“Waktu itu, baginya dunia seakan mau kiamat, demam dan sakit kepala yang ia rasakan membawa alam pikirannya untuk berkata hari itu akhir dari hidupnya. Untungnya, sakit yang ia rasakan hanya berselang beberapa hari saja. Setelah menkonsumsi obat herbal dan vitamin yang di kirim sahabatnya , ia beserta paman dan kedua anaknya merasa sehat kembali.

Saat itu, lajut Reni, menduga keluarganya terpapar Covid 19, setelah merasa sehat ia langsung lapor ke desa setempat untuk meminta di Tracing dan Testing dilingkungannya. Namun sayang, menurutnya laporan tersebut tidak pernah di tanggapi oleh pihak pemerintahan desa. “Sungguh saya sangat kecewa, disaat keadaan terpuruk, saya sempat lapor ke pemerintahan desa namun di cuekkin, padahal laporan saya tersebut hanya meminta di dingkungan kami untuk Tracing dan Testing, agar wabah tidak menyebar”, kata Reni Kusumawardhani.

Setelah badannya benar benar merasa vit, ia kembali bekerja mencari nafkah untuk keluarga kecilnya. Dengan menerapkan protokol kesehatan serta penuh kehati hatian ia ayunkan langkah menuju Jakarta untuk menggapai harapan usahanya bisa sukses dan berhasil. Namun sayang, setelah satu bulan berjalan, tepatnya pada hari Rabu, 28 Juli 2021 Reni Kusumawardhani kembali terpapar Covid 19 dengan gejala yang berbeda. Ia kembali mengalami demam yang disertai hilang indra penciuman. “Setelah dilakukan test Swab PCR dan dinyatakan positif Covid 19, akhirnya saya tidak bisa pulang dan harus tinggal dikantor selama 14 hari untuk melakukan isoman”, katanya.

Menurutnya, gejala Covid-19 yang ia alami sekarang berbeda dengan gejala sebelumnya. “Kalau yang pertama seperti gejala Chikungunya, ada demam serta sakit kepala dan nyeri otot namun hanya dirasakan beberapa hari sedangkan serangan kedua mengalami sesak dan hilang indra pemciuman. Saya menduga yang pertama itu Covid 19 varian Alfha dan yang menyerang kedua kalinya varian Delta”, jelas Reni.

Diakui Reni, saat terpapar yang kedua kalinya,ia sempat nangis dan ketakutan, membayangkan kematian dan jauh dari anak anaknya. “Saat itu aku hanya bisa pasrah dan memohon pertolongan Allah, yang terbayang dalam pikiran, dekatnya kematian yang akan segera menghampiriku. Selama 12 hari isolasi mandiri di kantor, saya terus di support teman teman kantor sampai pulih.

Reni berpesan kepada masyarakat di Indonesia untuk mematuhi protokol kesehatan agar apa yang dialaminya tidak terjadi kepada yang lain, serta berharap kepada pemerintah untuk melakukan 3T ( Tracing, Testing dan Treatment) benar benar dijalankan. (***)

Laporan : Asep Trisno

No More Posts Available.

No more pages to load.