Salut…!! Walaupun Ajip Rosidi Telah Berpulang, Pemberian Hadiah Sastra Rancage Tetap Digelar

oleh -33 views

Majalengka, korandesa.id.- Berpulangnya Ajip Rosidi pada 29 Juli 2020 lalu ternyata tidak menghentikan kegiatan pemberian Hadiah Sastera Rancage. Pemberian hadiah Sastera Rancage  tahun ini merupakan ke 33 kalinya yang digelar melalui virtual di beberapa platform online mengingat terkendala adanya pandemi COVID-19, Minggu (31/1/2021).

“Basa tos geubis teh pan teras teu ka mamana, di Pabelan. Neleponan wae ka euceu miwarang ngetang totoal biaya acara Hadiah Rancage  virtual.  Basa disebatkeun jumlahna teh, ngawaler, “ah sakitu mah keun ti Akang we kabeh” cenah. (Waktu setelah jatuh kan tidak pernah ke mana-mana, terus di pabelan. Terus menghubungi euceu (Etti RS) minta untuk menghitung total biaya acara Hadiah rancage virtual. Ketika disebutkan jumlahnya langsung menjawab ‘Ah segitu mah udah semua dari Akang (Ajip) saja semua’ katanya) “ ungkap Wakil Ketua Yayasan Rancage Etti RS.

Betapa besarnya perhatian Ajip Rosidi terhadap sastra, disaat sakitpun masih mengingat perlunya penghargaan untuk sebuah sastra.

Etti RS, mengungkapkan pengumuman hadiah Hadiah Sastra Rancage  terpaksa melalui virtual mengingat pandemi Covid-19, untuk kru panitia dipasilitasi  kantor Melsa yang jumlahnya dibatasi 12 orang.

“Hanya panitia, crew IT serta pengurus  Rancage juga hanya 3 orang saja. Semula akan dilakukan di Perpustakaan  Ajip Rosidi tapi internetnya tidak memenuhi, alat juga harus didatangkan ke sana,” kata Eti.

Sementara itu 10  dewan juri yang terdiri dari Hawe Setiawan, Tedi Muhtadin untuk sasra Sunda, Sri Widati Pradopo dan Danu Prio Prabowo untuk sastera Jawa, I Nyoman Dharma Putra untuk sastra Bali, Farida Aryani sastera Lampung, Rita S sastera Batak, Jamal T Suryananata dan Haris Salim sastera Banjar serta D Jawawi Imron sastra Madura menentukan pemenang masing-masing, untuk sastera Sunda pemenangnya adalah Dadan Sutisna yang menulis novel berjudul  Sasalad  dengan  Pustaka Jawa.

Hadiah Rancage untuk sastra Jawa berisi kumpulan puisi berjudul “Sawiji Dina Sawiji Mangsa” karya  Supali Kasim. Untuk sastera Bali berupa kumpulan cerpen berjudul ”Ngekadang Meme Komang Barata” penerbit Pustaka Ekscreesi.

Sastera Lampung berupa Antologi Puisi berjudul “Dang Miwang Niku Ading” karya  Elly Dharmawanti. Sastera Madura  kumpulan puisi berjudul “Sagara Eng Mata Ojan  Sulur “ karya Lukman Hakim AG serta untuk hadia Syamsudi berupa bacaan anak berbahasa sunda dengan judul “Pelesir Ka Basisir karya Risnawati penerbitnya Dunia Pustaka Jaya.

I Nyoman Dharma Putra yang membacakan para pemenang mengatakan, pemenang berhak mendapatkan hadiah berupa  piagam dan uang sebesar Rp 7.500.000.

I Nyoman mengatakan hanya ada lima satra daerah yang meneuhi kriteria untuk dinilai di tahun 2021. Yakni Sastra Sunda sebanyak 23, Sastra Jawa sebanyak 32 judul, Bali 10 judul dan Lampung 3 judul setra Batak 5 judul , Sastra Madura  3 judul.

Ada  Sastra yang terbit Batak Aceh dan Minang serta Banjar namun katanya tahun ini tidak mencukupi sehingga baru akan dinilai tahun di depan

Pada acara pemberian hadiah sastra, Ketua Dewan Pengurus Kebudayaan Rancage Titi Surti Nastiti yang juga putri dari Ajip Rosidi mengatakan, pada tahun ini merupakan tahun yang berat, tidak hanya akibat pandemi tetap juga dengan berpulangnya budayawan Indonesia Ajip Rosidi .

Menurutnya, Ajip Rosidi sejak tahun 1989 memberikan Hadiah Sastera Rancage untuk buku-buku terbaik yang terbit dalam berbagai bahasa daerah, itu dilakukan sebagai upayanya melestarikan sastra daerah.

“Menjaga kesinambungan pemberian Hadiah Sastera Rancagé bukan perkara mudah. Sebab, di Indonesia belum ada lembaga yang mampu menyelenggarakan pemberian hadiah sastra lebih dari seperempat abad tanpa terputus.” ungkapnya.

“Sepeninggal Bapak (Ajip Rosidi) pada 29 Juli 2020, banyak yang bertanya apakah Hadiah Sastera Rancagé akan dihentikan? Kami jawab tidak,” kata Titi yang menyampaikan ungkapan terima kasih pada Kementrian Kebudayaan yang sudah memberikan penghargaan kebidayaan di tahun 2020 yang katanya uangnya diberikan kepasa Yayasan Rancage.

Pemberian hadiah Sastra Rancage menurut Titi adalah salah satu wasiat almarhum Ajip Rosidi orang tuanya. Untuk itu Hadiah Sastera Rancage akan terus diberikan kecuali tidak ada lagi buku sastera daerah yang terbit.

Ada tujuh bahasa daerah yang hingga saat ini diberi Hadiah Sastera Rancage, yaitu Batak, Lampung, Sunda, Jawa, Bali, Madura, dan Banjar. Khusus untuk buku dalam Bahasa Sunda, Jawa, dan Bali, penganugerahan Hadiah Sastra Rancage tidak pernah terputus.

Titi mengatakan, pihaknya ingin memberikan hadiah untuk bahasa daerah lainnya, dengan syarat ada buku sastera dalam bahasa tersebut yang diterbitkan setiap tahun secara konsisten.

“Akan tetapi, itu bukan berarti kami banyak uang, sebab setiap tahun kami selalu berjuang mengumpulkan dana untuk hadiah dan honor para juri. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami terhadap pengembangan bahasa daerah di Indonesia,”kata Titi.

Menurut Titi, menjaga kesinambungan pemberian Hadiah Sastera Rancage bukan perkara mudah. Buktinya, di Indonesia belum ada lembaga yang mampu menyelenggarakan pemberian hadiah sastera lebih dari seperempat abad tanpa terputus.

Wakil Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Etti RS mengungkapkan, hingga tahun ini, Yayasan Rancage sudah mengumumkan 122 judul buku sastra daerah terbaik. Selain itu, Rancage juga memberikan Hadiah Samsudi untuk buku cerita anak-anak, khusus dalam bahasa Sunda.

Disampaikan Etti, buku sastra daerah yang terbit tahun 2019 cukup menggembirakan, untuk Tahun 2020 terjadi penurunan.

“Untuk tahun ini hadiah Sastera Rancage masih berasal dari Kang Ajip, sebelum meninggal Kang Ajip telah menitipkan uang hadiah untuk tahun ini. Duka taun payun mah, pangurus kedah tihothat milari donatur.” ungkap Etti. (wisnu)*