Sebelas Langkah Umum Dalam Islam, Guna Tuntaskan Problem Sistem Pendidikan

oleh -21 views

Oleh: Lilis Suryani ( Guru dan Pegiat Literasi)

Viralnya anak sekolah yang menendang seorang nenek-nenek memang membuat miris semua pihak, terlebih saat melakukan aksi tidak terpuji itu mereka masih mengenakan seragam sekolah pramuka.
Tidak bisa dipungkiri, kelakuan anak sekolah yang viral ini telah mencerminkan kegagalan sistem pendidikan saat ini dalam menanamkan adab dan budi pekerti kepada para pelajar.

Seperti yang kita ketahui bahwa hal seperti ini bukan pertama kali terjadi. Apalagi menyoal kasu bullying atau perudungan diantara para pelajar, juga sudah pada taraf uang kritis. Pasalnya, sejumlah korban dari kasus perundungan tersebut berakhir pada kematian, atau setidaknya trauma berat.

Kondisi para pelajar yang melakukan tindakan tidak terpuji itu menggambarkan betapa buruk sikap pelajar tersebut. Ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan dalam mencetak anak yang berakhlak mulia, dan juga gagalnya sistem kehidupan, sehingga tak menghormati orang lain baik pada sesama maupun pada orang yang lebih tua.

Di kasus lain, bulying antar pelajar tidak diselesaikan dengan tuntas, namun dengan kompromi, yang tidak memberi rasa keadilan kepada korban. Bahkan ada kecenderungan Sekolah merahasiakan kasus bullying, dan tidak menyelesaikan dengan tuntas.

Fakta ini jelas kontradiksi dengan program sekolah ramah anak. Ketidak siapan sekolah dalam program tersebut membuat sekolah justru menutupi kasus -kasus yang terjadi. Semua ini menunjukan penerapan sistem saat ini belumlah ideal.

Berbeda dengan sistem pendidikan dalam pandangan Islam. Seperti tulisan Ustaz Hafidz Abdurahman MA, seorang penulis buku ini menjelaskan bahwa Islam mempunyai sistem pendidikan yang unik. Semuanya telah diatur dengan jelas, sistematis, dan sempurna dalam Islam. Berikut ini adalah gambaran secara umum mengenai sistem pendidikan dalam Islam:

Pertama, kurikulum pendidikan Islam berdasarkan akidah Islam. Karena itu, seluruh bahan pelajar dan metode pengajaran ditetapkan berdasarkan asas tersebut. Tidak dibolehkan adanya penyimpangan, walaupun sedikit, dari ketentuan tersebut.

Kedua, strategi pendidikan adalah untuk membentuk ‘aqliyyah dan nafsiyyah Islam. Oleh karena itu, semua bahan pelajaran yang hendak diajarkan disusun berdasarkan strategi tersebut.

Ketiga, tujuan pendidikan adalah untuk membentuk kepribadian Islam, membekali khalayak ramai dengan ilmu pengetahuan serta sains yang berkaitan dengan masalah kehidupan. Karena itu, metode pendidikan disusun untuk mencapai tujuan tersebut. Tidak dibolehkan adanya metode yang mengarah pada tujuan yang lain, atau bertentangan dengan tujuan tersebut.

Keempat, waktu pelajaran ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab yang diberikan setiap minggu harus disesuaikan dengan waktu pelajaran ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, baik dari segi waktu maupun jumlah jamnya.

Kelima, pengajaran sains dan ilmu terapan seperti matematika, fisika harus dibedakan dengan pengajaran tsaqâfah. Ilmu-ilmu terapan dan sains diajarkan tanpa mengenal peringkat pendidikan, tetapi mengikuti kebutuhan. Sedangkan tsaqâfah Islam diajarkan pada tingkat sekolah rendah hingga menengah atas dengan kurikulum pendidikan yang tidak bertentangan dengan konsep dan hukum Islam. Sedangkan di tingkat universitas bisa diajarkan secara utuh, baik tsaqâfah Islam maupun non-Islam, demikian juga ilmu terapan dan sains, dengan syarat tidak menyimpang dari tujuan dan kebijakan pendidikan.

Keenam, tsaqâfah Islam wajib diajarkan pada semua level pendidikan. Di level universitas, hendaknya dibuka berbagai jurusan dalam berbagai cabang ilmu keislaman. Di samping itu, bisa dibuka jurusan lain, seperti teknik dan sains.
Ketujuh, seni dan keteramprilan bisa dikategorikan sebagai ilmu terapan dan sains, seperti bisnis, pelayaran, dan pertanian. Semuanya mubah dipelajari tanpa terikat dengan batasan atau syarat tertentu. Namun, di sisi lain juga bisa dimasukkan dalam katagori tsaqâfah, jika telah terpengaruh dengan pandangan hidup tertentu. Seperti seni lukis, ukir, dan pahat. Yang terakhir ini tidak bisa dipelajari, jika bertentangan dengan pandangan hidup Islam.

Kedelapan, program pendidikan hendaknya seragam. Program apa saja hendaknya sama dengan program yang telah ditetapkan oleh negara. Tidak ada larangan untuk mendirikan sekolah swasta, tetapi dengan syarat sekolah-sekolah tersebut mengikuti kurikulum pendidikan negara dan tunduk kepada kurukulum, strategi, dan tujuan pendidikan yang ada. Dengan syarat, sekolah tersebut bukan sekolah asing.

Kesembilan, mengajarkan masalah yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupannya merupakan kewajiban bagi setiap individu, baik laki-laki maupun wanita. Program wajib belajar berlaku untuk seluruh rakyat pada level sekolah dasar dan menengah. Negara juga wajib menjamin pendidikan bagi seluruh rakyat dengan gratis. Mereka diberi kesempatan untuk melanjutkan ke level pendidikan tinggi secara cuma-cuma dengan fasilitas yang terbaik.

Kesepuluh, negara menyediakan perpustakaan, laboratorium, dan media belajar-mengajar yang lain, di samping membangun sekolah dan universitas untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang ingin melanjutkan penelitian dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan tsaqâfah, seperti fikih, ushul fikih, hadis, dan tafsir, atau bidang ideologi, teologi, kedokteran, teknik, kimia, maupun eksperimental sehingga negara akan bisa melahirkan sejumlah mujtahid dan para saintis.

Kesebelas, tidak bisa memberikan hak istimewa dalam mengarang buku-buku pendidikan untuk semua level. Seseorang, baik sebagai pengarang ataupun bukan, tidak bisa mempunyai hak cipta atau hak terbit apabila sebuah buku telah dicetak dan diterbitkan. Namun, jika masih berbentuk pemikiran yang dimiliki oleh seseorang dan belum dicetak ataupun diedarkan, maka seseorang bisa mendapatkan imbalan, ataupun kompensasi yang memadai atas jasanya. Layaknya gaji seorang pengajar.

Inilah gambaran secara umum mengenai sistem pendidikan yang pernah ada dalam negara Islam dan banyak diabadikan dalam buku-buku sejarah peradaban umat Islam.(***)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.