Seksual Consent dan Legalitas Seksual dalam Islam

oleh -47 views

Oleh: Eka Purwaningsih, S.Pd
(Aktivis Muslimah, Pegiat Literasi)

Permen lazimnya manis, tapi kalau tidak bijak mengkonsumsinya bisa menimbulkan sakit gigi bahkan menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Lantas bagaimana dengan Permen (peraturan menteri) pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi pendidikan tinggi (dikbudristek dikti) Nomor 30 Tahun 2021 terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual (PPKS)?.

Plt Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbudristekdikti, Anang Ristanto, mengatakan  Permendikbudristek tersebut mengatur hal-hal yang sebelumnya tidak diatur secara spesifik. Sehingga menyebabkan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi selama ini tidak tertangani sebagaimana mestinya.

Karenanya, menjadi kewenangan Kemendikbudristek untuk mengatur setidaknya sanksi administratif terhadap pelaku kekerasan seksual di perguruan tinggi. Sanksi  punitif lainnya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pengingat Permen PPKS (Republika.co.id 4/11/2021).

Kalau kita lihat sekilas dari pernyataan tersebut, bisa di mengerti bahwa niat di keluarkannya Permendikbudristek dikti terkait PPKS sangatlah baik karena bertujuan untuk mengurangi kasus Kekerasan seksual di lingkungan Perguruan tinggi agar penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi bisa berjalan optimal dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

Namun mengapa Permen tersebut menuai Kontroversi bahkan penolakan dari berbagai pihak?

Disinyalir, Pasal 5 pada Permen nomor 30 tahun 2021 lah yang banyak menuai pro dan kontra. Garis besar dan yang menjadi sorotan dari penjabaran pasal tersebut adalah terkait Seksual Consent.

Dikutip dari jdih.kemendikbud.go.id isi dari pasal 5 ayat 2 point L Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 misalnya “menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh Korban tanpa persetujuan Korban”.

Dalam pengertiannya, kekerasan seksual merupakan setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan/atau perbuatan lainnya terhadap tubuh, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, dan bertentangan dengan kehendak seseorang.

Sehingga untuk bisa memahami apakah aktivitas tersebut merupakan kekerasan atau bukan, dihadirkanlah konsep Sexual Consent sebagai asas persetujuan dalam aktivitas seksual. Akan tetapi, hingga hari ini tidak ada definisi yang jelas mengenai sexual consent.

Ironisnya, konsep ini bahkan belum banyak dibahas secara akademik meskipun telah dengan latah digunakan sebagai paradigma hukum penghapusan kekerasan seksual di berbagai wilayah (Petra Debusscher, Women’s Rights and Gender Equality, 2015).

Jika dari sisi definisi saja masih Ambigu dan menimbulkan banyak perdebatan, akankah paradigma Seksual consent ini menjadi solusi tuntas menghilangkan kekerasan seksual?

Sepertinya tidak.
Paradigma seksual Consent ini hanya akan menjadi moral magic dan menimbulkan masalah baru sehingga permasalahan yang ada malah semakin runyam.

Kesalahan dalam menyimpulkan akar permasalahan, akan memperbesar pula peluang kesalahan dalam menentukan Solusi.

Padahal kalau kita cermati, berbagai kekerasan seksual yang terjadi pangkalnya akibat dari paham kebebasan yang tidak mengindahkan aturan agama dalam interaksi pria dan wanita.

Dalam Islam, ada hal yang lebih penting dari sekedar seksual consent yang harus dipikirkan saat akan melakukan aktivitas seksual. Sebagai syarat hubungan pria dan wanita atau aktivitas seksual itu menjadi diperbolehkan dan legal untuk di lakukan, yaitu harus ada ikatan Pernikahan.

Maka jika aktivitas seksual di lakukan di Luar ikatan pernikahan, dengan atau tanpa adanya seksual consent hukumnya haram.
Hal-hal yang akan menghantarkan kepada Zina Allah telah melarangnya di dalam terjemahan Qur’an Surah Al-Isra ayat 32 : “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”.

Paham kebebasanlah yang menjadi pangkal kekerasan seksual, maka tinggalkan dan kembali saja pada Aturan Islam. Dengan pengaturan hubungan pria dan wanita yang sedemikian rinci dan sempurna akan mampu menjadi solusi tuntas kekerasan seksual.

Wallahu’allam Bishawab.

No More Posts Available.

No more pages to load.