Seorang Ibu Di Majalengka, Gugat Anaknya Untuk Batalkan Akta Lahir.

oleh -256 views

Majalengka, korandesa.id – Seorang ibu di Majalengka  gugat anaknya ke Pengadilan Negeri Majalengka untuk membatalkan kutipan akta kelahiran No : 41/SAL.1958 yang telah diterbitkan Kantor Catatan Sipil Kabupaten Majalengka yang juga menjadi tergugat 2.

Persidangan Perdata No 7/Pdt.G/2021/PN MJL tertanggal 06 April 2021 sudah mulai digelar pada Selasa (13/4/2021) dengan Majlis Hakim Kopsah dan hakim anggota Ria Agustien dan Ridho Akbar.  Penggugat Sri Mulyani alias Kwik Lioe Nio ataupun tergugat Ika Wartika alias Kwik Gien Nio didampingi pengacara masing-masing. Mereka ini dikenal di Majalengka dengan keluarga  Foto Abok.

Dalam gugatannya Sri Mulyani (84) yang didampingi pengacara Mohamad Asep Rahman  menjelaskan dasar gugatan yang disampaikannya ke PN Majalengka,  bahwa penggugat telah menikah dengan Andi Kurnedi alias Auw Kim Tjeng  pada 21 Desember 1955 di Kota Semarang sebagaimana akta perkawinan  No akta 7/1955 tertanggal 1983, tertanggal 19 Desember 1983 yang dikeluarkan oleh PN Majalengka.

Namun selama menjalani perkawinan keduanya tidak dikaruniai anak. Dalam gugatan disebutkan pada Tahun 1964  Andi Kurnaedi dan Sri Mulyani mendapat titipan anak berusai 6 tahun bernama Kwik Gien Nio alias Ika Wartika. Hingga dibuatkan akta kelahiran dengan No 41/SAL.1958 tertanggal 5 Maret 1983 di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Majalengka melalui Pengadilan Negeri Majalengka pada 7 Maret 1983 dengan ayah Andi Kurnedi alias Auw Kim Tjeng   dan ibu tertera Ika Wartika alias Kwik Gien Nio.

Di poin 6, pada surat gugatan, pihak penggugat menyebutkan bahwa pembuatan Akta Kelahiran tersebut tidak pernah mengetahuinya, termasuk ketika mengajukan dokumen pembuatan akta pada saat itu.

Pada 7 mei 2006, suami penggugat Andi Kurnaedi meninggal di rumahnya  di Jl KH Abdul Halim No 315 atau Gelora Abok, Kelurahan Majalengka Wetan, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka.

Dipoin berikutnya penggugat mengatakan, karena penggugat dan suaminya tidak memiliki anak kandung, “maka penggugat sebagai istri adalah satu-satunya ahli waris yang sah dari suaminya Andi Kurnaedi alias Auw Kim Tjeng “.

Sementara itu Ika Wartika yang didampingi penasihat hukum  Cahyadi, Wahyu Harmoko dan Asep Suangsa mengaku kaget dengan adanya gugatan tersebut, dan tidak paham dengan sikap ibunya. Karena selama ini biasa berkomunikasi dan setiap pagi dikunjungi untuk mengirim makanan dan uang jajan karena ibunya hanya tinggal sendiri di rumah yang letaknya  nyaris berdampingan hanya terhalang satu bangunan.

Namun beberapa hari belakangan menjelang persidangan ibunya tidak berada di rumah. Ketika di melalui sambungan telponnya tidak diangkat, dicari ke rumahnya di Neglasari pun tidak ada, rumah di Neglasari pun sudah rusak. Ika pun berulang kali mencari tahu keberadaan ibunya termasuk ke Ketua RT di Neglasari dan beberapa warga, namun tidak ada yang mengetahuinya.

“Saya benar-benar  sedih, mamih itu sudah tua. Kenapa sampai bersikap demikian,” ungkap Ika.

Cahyadi mengatakan, persoalan keluarga sebaiknya tidak harus berujung ke Pengadilan, namun bisa dibicarakan antar keluarga. Apa yang menjadi keinginan penggugat dan tergugat, pembicaraan dilakukan diinternal keluarga.

“Persoalan ibu dan anak alangkah baiknya diselesaikan diinternal keluarga, tidak harus terekpose ke luar apalagi berujung di Pengadilan. Sidang kemarin dilakukan mediasi, dan mediasi akan dilanjutkan pekan depan. Saya berharap pesoalan bisa selesai pada mediasi, “ pungkas Cahyadi. (***)